Alur Rantai

Waktu berjalan berlalu dan berliku. Ah itu semua dirasakan semua orang. Mereka berperang dengan dirinya sendiri. Duduk diam menatap kosong. Karena ia sibuk dengan alur kepala mereka sendiri. Setidaknya mereka bisa berhenti melakukan itu dan kembali untuk menggerakan alur pikir mereka ke material di sekitarnya.

Bagaimana dengan pikiran di suasana gelap, hanya terdengar dentuman detik jarum yang cepat dari jam. Terasa tidak konstan pada tiap detiknya. Terasa getaran dari jantung dan denyut nadi seperti mengguncang tubuh yang terlentang? Sulit untuk mencegah alur fikir disaat seperti ini. Pikiran satu berlanjut ke pikiran selanjutnya bersambung seperti untaian pengunci membentuk rantai tidak henti. Lelah rasanya jika ini terus bergulir.

Ada masanya disaat aku tak kuasa mengkontrolnya kubiarkan saja hingga berlanjut ke mimpi dan menghasilkan realita baru dalam kepala. Kadangpun aku bingung membedakan realita materialistik dan realita logika ku. Semua terasa materialistik. Melahirkan dejavu yang sebenarnya sudah terprediksi dari lahirnya untaian rantai logika itu.

Ayolah kepalaku. Tidakkah kau bisa bersahabat malam ini saja. Istirahatlah seperti organ lain. Tidak kah kau lelah?

Kembali Memilih

Mulanya aku tau rasa ini. Waktu dimana aku terikat janji dengan yang lain memaksaku untuk membohongi diriku. Itu terjadi dimasa ku pertama kali hidup dengan kebebasanku sendiri tanpa ada yang mebatasi langsung.

Ya, di kota seberang, tak melewati laut. Di tempat aku belajar tentang tanggung jawab dan janji. Memang tidak kuingkari, namun semua bergulir yang menciptakan luka dengan sedikit garam di atasnya. Kandas saat itu.

Kufikir menimpali dengan hal lainnya yang cepat itu bisa mengobati! Nyatanya? Hampa jua. Kulewati masa itu. Kuberubah menjadi semakin keras. Membatu. Menghantam sekitar dan memecahkan kepribadianku. Kukira ku pecah! Ternyata belum.

Tiba saatnya ku yakin untuk memulai dengan yang terdekat. Kukira kukenal dia. Ternyata tidak sama sekali. Berbuah selisih. Kecewa dan kupecah kali ini. Apatis.

Hingga masa kusadari. Dia yang dulu kudamba entah kenapa hadir. Dikotaku. Dijangkauanku. Dengan rasa yang sama saat delapan tahun yang lalu.

Apakah semesta bergerak demikian?

Haruskah ku kembali memilih? Atau kami berdua bertanya hal yang sama?

Note Terakhir dari Media Sosial Path

Path, kamu cuma jadi pathway.
Mengapa pathwaymu pun tersapu dengan derasnya media sosial lainnya?
Wadah dimana membuat pathway tersebut tersingkron dengan wordpress.
Tulisan panjang dan pecahan kepala yang tak tertuangpun sirna jua.
Setidaknya memory itu juga tersapu bersama hilangnya media ini.
Tergantikan dengan cerita baru.
Memory baru.
Tempat baru.
Wadah baru.
Ritme baru.
Pribadi baru.

Terima kasih path dengan segala dramamu.
Dengan segala kelabilan masa-masa itu.

Ini akan tersingkron dengan wordpress.
Agar kau bisa dikenang path.

Path apakah nama lengkapmu Pathimura?
Atau kau menjangkit seperti Pathogen?
Mungkin dia seperti alunan musik Pathura (pantura goblog)
Atau path hanya sekadar path.
Ah, bisa saja.

View on Path

Suatu Kepercayaan yang Melelahkan

Waktu itu terfikir untuk tidak memberikan surat yang kusiapkan sejak semalam. Surat dimana ada tanda tangan yang kububuhi dengan tinta basah, menunjukan kemantapan hatiku untuk mengajukannya. Untuk apa kusiapkan ini semua? Jika hatipun masih bimbang.

Saat ini terasa dimana hati dan logika berperang seperti waktu sebelumnya. Ini adalah waktu dimana pilihan antara aku yang terjebak dengan masa lalu atau terjebak dengan ekspektasi. Apakah perlu kurasa ini lagi? Berperang lagi?

Aku memang belajar banyak di tempat ini. Diatas meja kecil yang penuh dengan komputer dan printer hingga tak ada lagi ruang untuk ku menaruh dokumen penunjangku. Waktu dimana ku belajar tentang kesalahan fatal dan kepercayaan yang kudapatkan.

Namun aku lelah.

Aku tau aku bisa melakukan lebih dari ini. Aku tau kepercayaan itu bisa aku dapatkan lebih lagi untuk mereka yang jauh lebih membutuhkanku.

Apakah mapan yang kucari? Uang? Pamor? Tidak rasanya. Ku hanya mencari dimana tempat yang bisa menerimaku sebagai seorang pengubah hidup mereka.

Teringat dengan diskusi waktu lalu dengan seorang ibu dengan karir yang luar biasa. Teringat ujaran beliau kalau aku masih muda dan belum sadar akan kebutuhan uang. Ya setidaknya memang belum. Ada saatnya kuberusaha ke sana memberi makan anakku memfasilitasi istriku. Tapi itu belum. Bahkan tak ada bayangan sedikitpun mengenai itu.

Yang kuhadapi sekarang adalah perang mengenai lompatan besarku.

Ya, surat ini yang akan kuberikan.

Surat pengunduran diri sebagai pekerja.

Dunia Tak Sesempit Meja Kantor

Kutarik kemeja panjangku untuk meraih jam tangan. Bersabukan kulit berjarum tembaga dan berlatar putih. Jam yang terlihat klasik namun tak setua penampakannya. Jam tangan yang sudah menemaniku sejak masa ku belajar di kota yang berkebudayaan berbeda itu masih saja mampu menemaniku.

Baru saja kusampai dan menunggu di kursi kayu klasik yang termakan air hujan. Dibawah naungan payung kunanti seorang yang penting di hari itu. Kurasa dia seorang nona. Kutunggu sang tambaga panjang menunjuk angka 12 agar genap di pukul 3 sore hari. Sudah kusediakan ponselku untuk menghubunginya. Memang ini hanya urusan kantor dan tidak lebih dari itu.

Sembari kutengok sekitarku, kuterka dimana dirinya. Sesekali terkait pandang dengan beberapa orang yang mungkin adalah dia. Mungkin saja. Entah hanya perasaan atau bukan. Kucari lagi dengan lirikan mata cepat namun badan bersender malas karena menyengatnya terik sore itu. Sudahlah berhenti untuk berekspektasi. Kutahu persis apa ganjaran yang harus kuterima dari sebuah ekspektasi. Kutarik ponselku untuk melihat catatan mengenai apa saja yang belum kuselesaikan.

Tak sadar hingga kutarik kembali jam tanganku yang sudah menunjukan pukul 3 tepat. Kulakukan panggilan telepon yang semula ku sediakan nomornya. Kutunggu dan hingga 60 detik panggilan tak ada respon darinya. Mungkin sibuk. Entahlah. Kutinggalkan saja pesan melalui pesan singkat elektronik.

Kusadar dari kejauhan ada sepasang nona berjalan turun dari mobil. Kufikir mereka hanya pelanggan cafe di seberang jalan. Hingga ada satu gerakan kusadar yang sepertinya dia lakukan dan kuterka ia membalas pesanku.

Benar. Suara notifikasi berdering dari telepon selular. Kubalas kembali untuk memastikan bahwa itu adalah dirinya. Ya, dialah seorang yang kutunggu. Kulihat dirinya menaiki tangga cafe di seberang jalan.

Ku menyeberangi jalan dan menuju cafe tempat ia masuki. Ia meminta saya untuk menemuinya di sana.

Ku masih terfokus dengan layar teleponku membalas pesannya. Kuberheti di depan tangga yang ia naiki dan terdengar suara, “Halo pak Windra!” Sambil ia menyodorkan tangannya.

Kuraih tangannya. Pada akhirnya itu lebih dari ekspektasi saya.

Reformasi Logika

Sebuah pemikiran itu terlahir karena adanya kesadaran. Betuk di mana kita teringat suatu saat yang berkaitan dan menyebabkan pemikiran berduga tentang apa yang akan terjadi. Pada mulanya dia tak faham apa makna dari eksistensi dirinya. Hingga ada satu masa dia melihat itu adalah rangkaian yang tak putus dari saat-saat dan menghadirkan suatu masa yang berakhir dengan pemikiran seperti ini.

Dia tak lagi sama. Saat yang menciptakan masa, menjadikan suatu kepribadian baru. Reformasi diri akibat dari rekonstruksi pikiran dari keabstrakan alur logika. Kenapa bisa berubah? Mungkin karena pikiran itu terdistraksi dari kenyataan-kenyataan yang semula sebatas ekspektasi. Ada ketidak cocokan di dalamnya. Tumpang tindih antara satu dengan lainnya adalah sang pelaku.

Pada akhirnya diapun harus mengakui bahwa pikiran sekarin pun dapat berubah karena dia sendiri tidak dapat dapat menahan akan pikirannya sendiri.

Puan?

Menjadi seseorang yang punya sudut pandang majemuk itu melelahkan. Entah apapun yang dilakukan selalu saja tersandung dengan kepala sendiri. Melahirkan jawaban yang bahkan sering bertolak belakang dengan mayoritas orang yang ada di sekitar. Dianggap berbeda itu menjadi jati diri.

Entahlah sampai kapan harus memiliki kepala yang berputar berlogika berhitung tanpa angka bergerak tanpa gaya ini? Bagaimana bisa hidup berdampingan? Jika saja hal seperti ini terus bergulir, tidak berhenti.

Nona mana yang sudi menjadi nyonya? Apa pantas tuan ini menjadikan nona menjadi nyonya? Tak mungkin rasanya. Belum menemukan saja rasanya. Atau memang tidak akan berpasangan? Mungkin.

Tuan tetap menjadi Tuan tanpa Puan.

Hidup?

Apa itu hidup?
terfikir saat rokok sudah separuh bungkus.
waktu terus bergulir dengan pemikiran yang tiada henti ini.
berputar sejalan dengan keinginan akan pencapaian titik tertentu.
apakah itu ekspektasi?
ya titik itu?
mungkin.
akupun belum sampai ke titik itu.
Kapan?
Entahlah.

Segelas Teh Panas Saat Itu

Ada beberapa yang entah kufikirkan selama ini
segalas teh dihadapan ku berembun panas
seperti dansa yang mungkin sedikit menghibur
hingar bingar suasana toko sederhana tak terasa
mungkin mati rasa
oh teringat aku belum menelan sesuatu pagi ini
kutarik lenganku
berusaha menggapai penunjuk waktu di lingkar tanganku
gatal rasanya terkekang si penunjuk waktu
17:45
mengapa harus terkekang waktu?
kenapa semua yang sudah terlewati tak bisa diulang?
selalu saja bergulir kebodohan
berbuah pahit
manispun sesaat
terasa semakan gundah di dalam mengunggu kehadirannya
apa ini masalah?
apa harus selalu seperti ini?
iritasi perut hanya sedikit terasa
tertutup ledakan ekspektasi kepala
adrenalin?
mungkin.
rasanya kutatap sesuatu
sulit untuk telihat jelas
meski semuanya nyata di hadapan
hanya fana terasa.
terdengar langkah yang fasih terdengar
lambat laun semua nyata
berdiri di hadapanku dia yang kutunggu
tertarik bibir yang tak seharusnya

After long time..

Yeah, i’m back. After long time I’m not posted anything here. I need something fresh to post here. But I still have no idea. By the way, I’m fresh graduate and become “sarjana”. Now, I’m just plain jobless.

I wanna tell you a story about my “skripsi” (undergraduate thesist or minor thesist… whatever what they called lah). I do my “skripsi” in 1.5 years. It’s usuall for undergraduate people, unless plus a year for me. I am accepted my lecturer projects to do researches about animal feed that can increase libido. Yeah, libido. My lecturer said to me if female animal (specialy rabbit) ate those libido increaser thing, they can produce 3 times many babies. At the same time I think about “How about human? Hmmm… Viagra for girl”. So, I decide to made a research about libido increaser thing for human after I done my lecturer researches (I spent 1.5 years to done those research. Thx mam for sweet 1.5 years).

I made those libido increaser thing from fermented raw soybean and made it into suplements. It’s simillar to “tempe” if you know. So, if you want to your girl(s)friend still in the peak of their libido, keep consume “tempe” everyday and you can do togetherness time as much as you want.

Thx to libido increaser. Now I am a “sarjana”.