Waktu berjalan berlalu dan berliku. Ah itu semua dirasakan semua orang. Mereka berperang dengan dirinya sendiri. Duduk diam menatap kosong. Karena ia sibuk dengan alur kepala mereka sendiri. Setidaknya mereka bisa berhenti melakukan itu dan kembali untuk menggerakan alur pikir mereka ke material di sekitarnya.

Bagaimana dengan pikiran di suasana gelap, hanya terdengar dentuman detik jarum yang cepat dari jam. Terasa tidak konstan pada tiap detiknya. Terasa getaran dari jantung dan denyut nadi seperti mengguncang tubuh yang terlentang? Sulit untuk mencegah alur fikir disaat seperti ini. Pikiran satu berlanjut ke pikiran selanjutnya bersambung seperti untaian pengunci membentuk rantai tidak henti. Lelah rasanya jika ini terus bergulir.

Ada masanya disaat aku tak kuasa mengkontrolnya kubiarkan saja hingga berlanjut ke mimpi dan menghasilkan realita baru dalam kepala. Kadangpun aku bingung membedakan realita materialistik dan realita logika ku. Semua terasa materialistik. Melahirkan dejavu yang sebenarnya sudah terprediksi dari lahirnya untaian rantai logika itu.

Ayolah kepalaku. Tidakkah kau bisa bersahabat malam ini saja. Istirahatlah seperti organ lain. Tidak kah kau lelah?