Beberapa orang ingin membimbing karena empati.
Mereka menolaknya.
Mereka merasa kesulitan dan menyalahkan karena tidak ada yang peduli terhadap dia.

Saat orang lain berbicara, dia tidak mendengarkan.
Tetapi saat dia berbicara, semua diminta untuk mendengarkan.

Dia mencari orang lain untuk membantunya saat ia kesusahan.
Saat orang lain kesusahan, ia tidak mau sadar.

Siapakah mereka itu?
(Yang tersinggung membaca ini)

View on Path

Sudut pandang

Kenapa sih dia gini? Kok dia punya gaya yang aneh?
Sering kali pertanyaan kaya gt sering keluar dari pikiran kita. Manusia itu ada juga karena keperbedaan tiap2 pribadi. Bukankah keperbedaan itu indah? Tinggal bagaimana cara kita melihat sesuatu.

Pertama, cara melihat sesuatu pada dasarnya bisa dari berbagai sudut. Mungkin rumus yg bisa memperlihatkan seberapa banyak sudut pandang kita. Setiap kita punya 360° sudut, sedangkan itu jika dalam keadaan datar bisa lebih. Mungkin menjadi 360°^2. Seberapa banyak sudut yang bisa kita gunakan. Seperti sesuatu yg ada di tengah dan kita mengelilinginya seperti bola.

Maka yang kedua, tinggal bagaimana kita mau memilih mau dari memandang dari sudut pandang mana. Sebaiknya dengan kehendak bebas kita, kita dapat memilih sisi yang lebih bijak.

Maka dengan sudut pandang yang bijak bisa mempengaruhi jawaban yang juga lebih bijak. Hal ini akan terulang terus sampai kita tidak bisa memilih lagi (mati).

Sesatu yang dimulai dengan positif akan berakhir positif.

Langkah.
1. Sadari sudut pandang
2. Pilih sudut pandang yang bijak
3. Hasil yang bijak
4. Kembali ke bagian pertama

View on Path

Kuliah terasa membosankan.
Karena hanya kuliah 2 mata kuliah seminggu.
Bosan karna ga ada kerjaan.
Supaya tidak bosan carilah kerjaan.

Contohnya?

Kerjakan SKRIPSI!

View on Path

Banyak buku yang menjabarkan permasalahan sukses. Selain itu jg banyak yang menjabarkan bagaimana cara untuk sukses. Pada dasarnya kalau mau sukses itu ada 2 bagian yg sejauh ini saya sadari. Kesadaran itu antara lain:
1. Kesadaran internal
2. Kesadaran eksternal

Dari kedua hal tersebut bisa mewakili banyak aspek kehidupan. Tidak hanya sebatas kesuksesan saja. Mungkin bisa untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Bahkan bisa teraplikasikan dalam sistem tertentu. Penjabaran mungkin tidak bisa diterima, hal ini karena diri saja yang tidak mau menerima atau menganggap ini hanya sebagai tulisan ga penting. Toh itu kehendak bebas anda.

1. Kesadaran internal
Alat timbangan dengan kapasitas 100 gram tidak akan bisa menimbang benda 25 kilogram. Benda tersebut setidaknya hanya bisa di timbang dengan timbangan yang sesuai dengan batas tertentu. Kadang kala kesadaran diri kita untuk tidak mau sadar akan diri membuat diri kita menerima tugas yang terlalu mudah, atau tugas yang tidak akan pernah bisa diselesaikan. Kesadaran akan diri memiliki banyak keuntungan, antara lain:
A. Merencanakan sesuatu
B. Mengerjakan sesuatu
C. Memperkirakan hasil
Dengan sadar akan keadaan diri dan kapasitas diri akan menjadikan diri kita menjadi bisa menjadikan diri kita menjadi tingkat optimum. Dalam keadaan optimal maka diri akan memperikan hal yang terbaik dan seimbang baik dalam perencanaan, proses dan hasil akhirnya. Mungkin ada banyak aspek lain selain yang diceritakan di atas. Setidaknya itu sedikit yg bisa di share.

2. Kesadaran eksternal
Kesadaran eksternal adalah kemauan diri untuk mengetahui situasi yang ada di sekitar kita. Sebongkah es tidak akan bertahan lebih dari 2 jam di hari yang terik. Berusahalah untuk tau apa yang terjadi di sekitarmu untuk membuat diri menjadi lebih optimal. Jika mau berdampak terhadap suatu situasi maka kita harus menjadi lebih teguh dibandingkan dengan situasi sekitar. Selama kita tidak mau sadar akan lingkungan sekitar, bersiaplah untuk dibentuk oleh lingkungan sekitar.

Kondisi lain berkata, seteguh-teguhnya batu karang akan habis oleh air laut. Jawaban yang lebih bijak adalah jangan jadi batu karang. Jadilah jembatan. Kenapa? Karena jembatan mendapatkan pemeliharaan berkala.

Maka dari itu kedua aspek tersebut harus selalu ada dan seimbang.

View on Path

Berbeda

Kelahiran
Setiap manusia dilahirkan memiliki hati dan pikiran yang sama. Jika ada yg masih menganggap berbeda, berarti masih melihat secara fisik. Lalu kenapa manusia bisa tercipta berbeda dalam karakter dan kepribadiannya? Hal itu karena pola tumbuh, pola lingkungan, pola didikan dan banyak aspek yg secara langsung berdampak pada tiap manusia. Maka terciptalah keperbedaan satu pribadi dan pribadi lainnya.

Mengapa ada perbedaan?
Permasalahannya adalah mengapa ada manusia baik dan manusia jahat? Itu bukan permasalahan, itu keunikan manusia. Tiap pribadi manusia memiliki kehendak bebas. Kita kan tidak ada pembatas apakah mau menjadi vegetarian atau tidak. Bahkan manusia bisa memilih untukmenjadi kriminalis atau orang taat hukum. Kehendak bebas masa lalu mu yg menjadikan mu saat ini yg kamu pandang di dalam cermin.

Perlukah berubah?
Saat seseorang menyadari dia salah, maka dia akan berusaha untuk berubah (hal ini juga kembali ke pribadi untuk memilih sadar atau tidak). Perubahan secara sadar ataupun tidak pasti terjadi dalam diri kita. Hanya kehendak bebas kitalah yang seharusnya memilih untuk mengkontrol dalam koridor yang baik. Koridor yang membatasi diri dari sosial dan diri kita sendiri. Supaya keadaan diri kita bisa memiliki pertumbuhan yang cepat dan pasti. Maka adanya pembatas itu bukan berarti kita menjadi terasing dari sosial tetapi menjadi garam dan terang bagi dunia.

Dampak diri
Setahu dan sepengetahuan saya, sifat dasar manusia itu ingin merubah sosial mereka atau bisa disebut berdampak untuk diri. Ada banyak contoh untuk bentuk berdampak. Ada yang ingin menjadi presiden, ada yang ingin karyanya dikenal melalui lukisan, atau bahkan hanya mencati nafkah untuk keluarganya sendiri. Itu adalah bentuk dari keinginan pribadi yang ingin berdampak. Bagaimana kita bisa berdampak? Tergantung dari kekuatanmu.

Kekuatan untuk berdampak
Makna secara umum untuk kekuatan ini bukan berarti harus memiliki otot besar seperti pegulat, atau seberapa kuat kita bisa memukuli seseorang. Maksud dari kekuatan ini adalah bagaimana kamu bisa mendominasi sesuatu. Maka diperlukan pelatihan diri secara rutin dan berkala untuk membuat dirimu menjadi dominator sekitarmu.

Jangan tinggalkan sosialmu
Pepatah lama mengatakan,” guru yang terbaik adalah pengalaman”. Pertanyaan utamanya adalah, apakah anda menyadari bahwa pengalaman anda berharga? Banyak pribadi yang punya pengalaman banyak, tetapi tidak mau menyadari dan belajar dari pengalamannya. Sejauh yang saya rasakan, justru keadaan sosialmu yang secara sadar atau tidak sadar menyadari betapa berharganya masa lalu yang kamu rasakan. Kita pada dasarnya butih pembanding, maka buat perbandingan yang positif dengan sosialmu.

Belajarlah untuk:
1. Menyadari keperbedaan
2. Kehendak bebas
3. Kontrol diri sepositif mungkin
4. Jadi pribadi yang berdampak
5. Selalu belajar dari keperbedaan

View on Path

Pulang kebaktian (lebih cocok dibilang malam devosi sih sebenernya) liat opa oma yg saling gandengan pas turun tangga.
Yang dipelajari adalah mereka ga gandengan terus2an. Mereka ga mesra2an. Tapi mereka menggandeng pasangannya karena sudah mengerti satu sama lain kalau mereka terbatas.

Yang unik, anak mereka siap menggandeng mereka. Tp yg d gandeng pertama adalah pasangan mereka.

Nohh.. Bisa ga lo kaya gt?

View on Path

Agama itu
A = tidak
Gama = kacau (berdasarkan yg gw pelajari waktu SD. Setelah saya lihat KBBI adalah huruf ketiga dalam huruf yunani. Mingkin gama yg dimaksud adalah berdasarkan sinar gama. Tapi entahlah)

Arti dalam bahasa indonesia sangat dalam. Tidak menyebabkan kekacauan. Tidak hanya diartikan kepercayaan. Tapi punya makna lain yaitu kedamaian. Sedangkan dalam bahasa inggris disebutkan faith. Menurut saya lebih cocok untuk disebut dengan kepercayaan.

Berarti orang indonesia dulu memilih kata agama supaya kita tidak hidup dalam kekacauan.
Tapi saat ini kenyataannya terbalik.

(Mungkin)

View on Path

First note from path

Sekedar iseng aja sih buat ngetest post path ke wordpress…

Ada sedikit kebingungan sebenarnya. Ini path kok bisa post ke wordpress ya? Jadi blog juga media sosial? Ini saya yang goblok atau memang ga tanggap informasi. Mungkin salah satu hal yang unik ya? Path kan friendnya terbatas. 130 ato 150 gt. Lupa. Tapi bisa di share juga di tweet, di facebook, tumbler, foursquare.

Nahloh, kalo tu d bawah sharenya d pake semua, apa gunanya teman yang terbatas. Kenapa ga langsung di medsos masing2 aja postnya? Ya mungkin path mau menyadarkan bahwa medsos itu bukan 100% kehidupan kita. Tapi hanya sedikit yang sadar akan itu.

Path mungkin tidak terlalu efektif buat saya. Saya ansos. Jadi temennya dikit. Jadi postnya paling cuma di baca dikit. Toh kalo di baca cuma lewat doang. (LAH TERUS NGAPAIN NGE-POST SKARANG!!)

Yah, itu lah anak2 skr. Bandingkan dengan jaman kita sd. Gw salah satu yang baru punya hp sendiri kelas 6 sd. Inget banget, dulu sms tu ga tau caranya gimana (sumpah ini katro bgt gw). Jadi kerjaan gw telp. Itu pun telp om gw yg jemput gw. Ato bapak ato ibu, ato sopirnya bapak. Hahahaha… Tapi anak sekarang udah bawa ipad semua. Man. Itu cuma buat game?! Setau gw fungsinya tablet or smartphone itu bukan buat game deh. Gini nih, yg bikin nitendo, playstatin sama xbox jadi bangkrut. Smartphone or tablet itu teh buat mikro komputer. Bukan cuma game.

Jadi, gw bisa ngejudge produktivitas seseorang dari pinjam gadget dy. Hahahaha… Sori ya, jadi selama ini gw pinjam gadget kalian tu buat research jg. Hehe.. Kebanyakan temen gw tu game, sebagian video dan musik dan kurang dari 5% yang memang buat produktivitas kerjaan kuliah atau apapun itu. Hahaha… Sorry ya sekali lagi.

Ini sebenernya bisa di split jadi 2 post, tapi… Bodo amat lah. Toh jam segini saha teh mau baca post na nyak?

Semoga nyambung deh ma wordpress…

View on Path

Mahasiswa?

Baiklah, mungkin ada 1 hal yang perlu dijelaskan. Apa sih mahasiswa itu? Mahasiswa itu terbagi atas 2 kata. Maha dan Siswa. jadi pada dasarnya ga hanya menjadi seorang yang belajar, tapi ada hal lain yang perlu dipegang oleh sang maha. apa si bedanya jadi mahasiswa dan siswa? perbedaan itu adalah TriDarma Perguruan tinggi.

Tridarma perguruan tinggi adalah Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian. bisa diulasmungkn satu2 tapi ga dalem2 amat sih.

Pendidikan. ya ini mah ga usah di jelasin juga pasti banyak yang sudah mengerti. Tempat untuk menuntut ilmu dan tergantung fokus masing2 yang belajar, apakah mau belajar atau cua cari ijazah sama gelar. Hak masing2 pribadi kan?

Penelitian. Mungkin ini agak berlebihan bagi beberapa anggota mahasiswa. Tapi saharusnya mahasiswa adalah seorang penemu? untuk apa jadi penemu, secara singkat mungkin dibawa ke poin selanjutnya.

Pengabdian. nah ini sebenarnya tujuan utama dari mahasiswa. Bukan hanya sebagai lahan belajar, atau sekadar penemuan. tapi apa yang didapatkan seharusnya menjadi suatu hal yang bisa diberikan kepada masyarakat umum. jadi ga cuma belajar aja kan? atu cuma meneliti buat skripsi kan?

Pada dasarnya kuliah tu ga sekedar gitu aja, cuma dapat gelar kan. Tetapi, apa dampak yang kamu berikan sama masyarakatmu bahkan untuk Indonesia.

Mungkin buat teman2 yang masi mikir buat kuliah sebagai mendapatkan gelar, pikir ulang deh. Apakah sebagai mahasiswa sudah siap memikul Tridarma tersebut.

Kedewasaan?

Mungkin pada umur2 seperti saya ini adalah waktu dimana manusia sedang gencar2nya cari pasangan. Hal ini ga selalu pacar lho ya? Ada yg bilang pacar, ada yang bilang teman baik, atau apapun itu yang jelas lawan jenis yang “nyaman”. Saat ini pula sebenarnya waktu dimana fase2 berbahaya juga mengintai. Apa itu? Ya apa lagi kalo bukan hubungan yang salah (hal ini mencakup banyak hal ya. Ga hanya seksual, tapi emosional temperamen dan lainnya).

Secara umum namanya manusia pasti ada luputnya. Pasti setiap orang pasti punya kesalahan, akan bersalah, dan sedang bersalah. Banyak hal yg membuat manusia itu bersalah. Secara terfokus dalam hubungan lawan jenis pastipun ada salahnya juga kan? Bahkan mayoritas sosial menganggap kalau banyaknya kesalahan bisa menunjukan tingkat kedewasaan. Bisa juga s, tapi tergantung di lihat dari prespektif apa dulu.

Namun ada 1 kunci utama dimana setiap pribadi manusia bisa bersikap baik. Bersikap mau berubah menjadi lebih baik. Mungkin setelah ini kita ulas per bagian.

1. Mau
Bagian pertama adalah mau. Ini kunci dasar untuk menjadi pribadi yang baik. Mau itu sebenarnya suatu kondisi kerja, dimana keadaan yang baru dimulai. Bisa dibilang titik awal untuk berubah. Yang lebih ke arah dorongan untuk berubah. Jadi bukan berubahnya lho ya. Nah, hal ini tidaklah mudah. Kenapa tidak mudah? Karena manusia itu harus keluar dari kondisi yg saat ini dan berpindah ke kondisi baru. Manusia itu harus sepenuhnya sadar bahwa berpindah kondisi seperti ini bukanlah hal yang mudah karena ia haruslah menyadarkan dirinya untuk tidak di dalam kondisi yang sama seperti sebelumnya. Seorang pribadi yang mau, seharusnya tau kondisi sebelum dan sesudah dan siap akan segala perubahan dan ketidak sesuaian yang akan ada. Siap untuk keluar dari zona nyaman.

2. Berubah
Pada bagian selanjutnya adalah berubah. Dalam kondisi ini adalah satu tingkat di atas mau. Saat manusia sudah dalam fase berubah maka dia sudah semestinya tau pasti kondisi dirinya saat ini. Pada fase ini maka manusia benar2 siap untuk selalu dalam kondisi tidak nyaman. Kenapa seperti itu? Saya punya sedikit ilustrasi favorit. Seonggok tanah itu tidak terlalu berguna bukan? Apa yang perlu dilakukan agar bisa menjadi lebih berguna? Tingkat pertama adalah tanah itu harus dipisahkan dari asalnya (diambil), kemudian dicetak, dan dibakar. Dari tiga fase itu terbentuklah bata yang bisa disusun untuk dijadikan rumah. Itu baru jadi batu bata. Mau lebih baik lagi? Keramik. Tanah dipisahkan, dilunakan dengan air, ditekan untuk membentuk suatu bentuk tertentu dan pada bagian terahir dibakar dengan suhu yang jauh lebih tinggi dibandingkan batu bata. Ada fase yang bertambah dan berbeda diantara batu bata dan keramik. Semakin banyak proses yang bertujuan, maka semakin baik pula hasil akhirnya. Tinggal kita mau pilih mana, tanah (tidak mau), batu bata (berproses setengah jadi), atau keramik (hasil akhir yang indah). Semua itu tergantung pilikan kita bukan?

3. Lebih Baik
Selanjutnya adalah lebih baik. Pada dasarnya manusia itu sudah punya ukuran baik. Yaitu hati nurani. Namun seiring manusia bertumbuh, hati nurani semakin tumpul dan tergantikan oleh logika dunia (tergantung cara bertumbuh tiap pribadi manusia). Maka diperlukan suatu acuan yang bisa digunakan untuk menjadi lebih baik. Maka carilah terlebih dahulu tentan “Baik” itu sendiri. Setelah kita sudah mengetahui standar yang dilakukan, maka bersiaplah bertumbuh menjadi pribadi sang Kebaikan itu sendiri.

Pada dasarnya tidak ada yang instant. Jadi bersiaplah menghadapi hal ini. Saat anda mulai berkomitment mau, siap2 menerima hantaman dari segala arah.

Banyak sih sebenetnya yg mau d share. Tp ngantuk. Hahaha…
Terima kasih.