Opini: Alternatif Sumber Energi Hijau dan Terbarukan

Energi adalah dasar dalam setiap mahluk hidup untuk beraktifitas. Semakin era modern, kebutuhan energi semakin beragam dan yang terbesar untuk menjalankan berbagai macam teknologi saat ini adalah listrik. Hanya saja yang disayangkan adalah sumber utama dari energi listrik di indonesia masih menggunakan sumber yang sama sejak revolusi industri, bahkan peradaban maju di awal masehi yaitu batu bara.

Generasi muda saat ini sudah waktunya untuk memikirkan alternatif lain dan bergegas memulainya. Peran generasi muda yang pro aktif dalam bertindak itu penting, dan tidak hanya berbuah ide di hadapan cangkir kopi dalam cafe. Mulai bertindak mencari solusi dan bergerak.

Ada banyak alternatif sumber energi untuk listrik di alam indonesia yang kaya ini. Mulai dari angin, matahari, biomassa, gas bumi, gas fermentasi, gasifikasi, gerakan air sungai atau bahkan ombak juga bisa menjadi sumber energi terbarukan. Cukup merenung meneliti di tiap daerah ada sumber energi alam apa yang paling sesuai dan efisiensi untuk dikonversikan ke listrik.

Sebagai latar belakang teknologi pertanian, saya jauh lebih fasih berbicara fermentasi dan biomassa. Dalam hal ini fermentasi dapat dilakukan untuk limbah cair organik dari berbagai sumber, antara lain peternakan atau industri pangan. Sedangkan biomassa dapat diperoleh dari sumber tanam seperti kayu, bambu atau bahkan sampah kota.

Saya akan mengulas dan membagikan lebih lanjut mengenai beberapa metode energi alternatif yang bahkan bisa dilakukan dalam skala kecil dan menengah pada post selanjutnya.

Wisesa, 2019

Opini: Pakan Alternatif Dari Limbah Produksi Produk Pangan

Seiring dengan pertambahan jumlah penduduk, hemat saya menjadikan kebutuhan protein hewani meningkat seiring waktu. Protein tersebut bervariasi, antara lain unggas, mamalia, ataupun ikan.

Protein hewani pada dasarnya adalah perpindahan protein dari pakan yang bersumber dari nabati ataupun hewani yang bisa dikatakan kurang etis untuk dijadikan pangan. Tujuan dari pemberian pakan yang terutama adalah protein agar bisa meningkatkan masa otot dari hewan sumber protein hewani.

Namun dalam proses pembuatan pakan ada sumber lain yang bisa memberi manfaat tambahan yang bisa ditambahkan atau sudah ada di dalam bahan baku. Bagaimana jika dibalik dalam alur pikirnya? Bahan baku yang digunakan sudah memiliki bahan aktif tertentu dan kandungan protein yang ditingkatkan.

Proses fermentasi dapat dilakukan untuk mendapatkan protein tambahan dalam bentuk protein sel tunggal. Beberapa jenis mikro organisme dapat meningkatkan kandungan protein seperti jenis Rhizopus oryzae yang dapat menghasilkan protein sel tunggal pada tempe yang tergolong sebagai super food. Dengan penambahan mikro organisme tersebut berpengaruh terhadap zat bioaktif mikro nutrient pada substratnya.

Sifat mikro organisme yang bersifat memecah zat tersebut dapat diketahui pada penelitian yang pernah saya lakukan terhadap kedelai yang memecah genistin menjadi genistein. Genistein termasuk dalam golongan Isoflavon yang memiliki sifat bioaktif terhadap makhluk hidup.

Dalam penelitian saya sebagai berikut:

DEGRADASI IKATAN GLIKOSIDA PADA KEDELAI DENGAN INOKULASI MIKROORGANISME UNTUK SUPLEMEN MAKANAN TINGGI ISOFLAVON (KAJIAN JENIS DAN PERSENTASE MIKROORGANISME)

unduh di sini

Genistein adalah zat yang bersifat esterogen lemah dan secara klinis dapat meningkatkan birahi dan dapat menambah jumlah anak dalam penelitian milik profesor saya. Bahan yang digunakan dapat dengan limbah tempe dalam bentuk kulit ari kedelai atau limbah tahu.

Dengan penambahan ini, maka dapat didapatkan keuntungan ganda antara lain kebutuhan protein dan mendapatkan zat aktif sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Dalam hal ini kebutuhan protein untuk hewan serta jumlah bibit.

Dapat disimpulkan untuk mencapai pemenuhan dapat dilakukan riset yang dapat meningkatkan efisiensi sesuai kebutuhan.

 

Wisesa, 2019

Sharing: Pembuatan Bahan Baku Suplemen Genistein Dari Kedelai Melalui Proses Fermentasi

images (5).jpeg

Salam saudara-saudara.

Kali ini saya akan membagikan penelitian yang saya jalankan selama berkuliah di jurusan teknologi industri pertanian, Universitas Brawijaya. Penelitian tersebut saya lakukan dalam rentan tahun 2014-2015 untuk memenuhi tugas akhir selama saya berkuliah.

Berikut judul berserta link jurnal yang dapat anda lihat dan unduh.

DEGRADASI IKATAN GLIKOSIDA PADA KEDELAI DENGAN INOKULASI MIKROORGANISME UNTUK SUPLEMEN MAKANAN TINGGI ISOFLAVON (KAJIAN JENIS DAN PERSENTASE MIKROORGANISME)

unduh di sini

Secara garis besar penelitian saya menggunakan bahan baku kedelai yang didapatkan dari koperasi produsen tempe di daerah Sanan, Kota Malang. Proses fermentasi dilakukan untuk mengindikasikan adanya kenaikan kandungan Genistein pada hasil ekstrak menggunakan Ethanol.

Metode pengujian menggunakan alat uji Spectrophotometric dengan larutan standar quercetin. Pengujian dilakukan dengan tiga kali perulangan.

Mengenai hasil dari penelitian saya dapat diketahui dalam lampiran unduhan di atas. Semoga dapat bermanfaat bagi saudara-saudara.

Wisesa, 2019.

Opini: Made in Siberut Documentary

Link: Made in Siberut Documentary

Budaya daerah Siberut tergolong unik. Seperti banyak daerah di Indonesia, Siberut juga memiliki kepercayaan lokal yang unik. Film dokumenter tersebut dimulai dengan narasi demikian, namun apa yang dimaksudkan secara garis besar bukan mengenai kepercayaan tetapi mengenai budaya pangan masyarakat di sana.

Pola konsumsi pangan lokal di daerah Siberut mulanya adalah konsumsi sagu dan keladi sebagai sumber karbohidrat. Masyarakat Siberut mengolah sagu dengan metode penepungan basah yang mirip seperti dilakukan oleh masyarakat di timur Indonesia. Sedangkan keladi disiapkan dengan proses perebusan saja dan penumbukan.

Perubahan pola konsumsi muncul setelah ada pengenalan masyarakat dengan beras padi. Perlahan masyarakat Siberut pada generasi selanjutnya mulai terbiasa dengan konsumsi nasi. Masyarakat secara merata dikenalkan dengan pertanian beras seiiringan dengan program transmigrasi pada masa lampau.

Permasalahan timbul ketika lahan gambut yang digunakan sebagai lahan pertanian tidak sepenuhnya sesuai untuk penanaman padi. Pelatihan yang minim serta kurangnya riset menjadikan hasil padi yang di tanam kebanyakan kosong. Mereka menganggap adanya hama dan kekurangan pupuk. Penggunaan pupuk seharusnya bisa digunakan dan benar yang dimaksud dengan penyuluh lapangan untuk tidak menggunakan pupuk yang mungkin adalah pupuk sintetik. Pemerintah dapat menggalakan penyuluhan mengenai pengolahan pupuk berbahan dasar organik dari bahan baku sekitar mereka.

Ketergantungan terhadap beras sudah tinggi namun belum dapat menstabilkan produksi karena permasalahan di atas. Beras yang didistribusikan oleh Bulog menjadi solusi. Sedangkan terdapat perbedaan harga signifikan antara beras yang didistribusikan oleh Bulog dengan distribusi lokal. Bagaimana jika distribusi tersendat? Jawaban mereka kembali ke pangan lokal yaitu sagu dan keladi.

Minimnya aplikasi teknologi untuk pengolahan sagu dan keladi menjadi permasalahan utama. Teknologi yang digunakan secara luas baru sebatas mesin pemarut sagu dan penepungan masih dengan metode penepungan basah manual. Penggunaan mesin skala industri masih terbatas di sebagian tempat saja. Perbedaan harga tepung sagu dan beras Bulog pun terlampau jauh. Dalam hal ini konsumsi pangan lokal penting karena sumber sudah ada dan banyak tersedia di banyak titik tumbuh di Pulau Siberut.

Mengenai pengolahan umbi keladi tidak di dokumentasikan. Bisa jadi masih belum ada teknologi yang menyentuh untuk pengolahan umbi keladi tersebut.

Menurut saya dibutuhkan riset lebih lanjut mengenai aplikasi teknologi pangan lokal. Dengan pengembangan teknologi pangan lokal maka masyarakat dapat memenuhi kebutuhan dasar karbohidrat mereka tanpa mengubah pola konsumsi lokal, serta tidak perlu menambah usaha dari awal untuk membuka lahan dari beras.

Teknologi pengolahan pertanian sederhana dapat memberikan dampak signifikan bagi masyarakat tidak hanya di daerah Pulau Siberut, namun secara luas sesuai dengan kebutuhan dan produksi lokal.

Wisesa, 2019

Pemilihan Umum 17 April 2019

Setelah melewati beberapa bulan panas setelah deklarasi calon presiden berserta wakilnya akhirnya hari ini datang juga. Hari dimana pesta demokrasi rakyat Republik Indonesia berjalan memberikan hak politiknya serentak untuk di dalam negeri. Pemilihan di luar Negeri sudah dilaksanakan namun perhitungan masih tetap dilaksanakan hari ini. Untuk tiap tempat pengambilan suara luar Negeri.

Pemilihan tahun ini pada dasarnya bisa dibilang pemilihan ulang karena calon presiden yang maju masih tetap sama. Perbedaan ada di calon wakil presiden masing-masing. Keberbedaan tersebut yang saat ini menjadikan tingkat kesadaran politik masyarakat meningkat.

Terlihat hampir di setiap TPS terlihat ramai dengan antusiasme pemilih. Tempat saya bahkan masyarakat sudah antri sejak 30 menit sebelum TPS dibuka. Solidaritas terlihat jelas. Semua memiliki harapan pada pilihannya.

Yang patut disayangkan adalah jumlah surat suara yang sebanyak 5 buah menjadikan pemilih bingung untuk mengambil keputusan, terlebih untuk 4 surat suara selain calon presiden dan wakil. Animo masyarakat tergiring dan terfokus hanya pada pemilihan presiden dan wakilnya. Hal ini menyebabkan masyarakat hanya sedikit mengerti dan berbuah kebingungan dalam memilih. Visi misi mereka kurang tersampaikan, kalah diterjang visi misi dari capres dan cawapres.

Mungkin ada baiknya terdapat jeda waktu untuk memberi kesempatan calon legislatif untuk diambil suaranya. Pada dasarnya, legislatif dan eksekutif sama pentingnya.

Sexy Killers Documentary Comments and Opinions

Pada hari ini tanggal 16 April 2019, tepat 1 hari sebelum pemilihan umum tahun 2019. Ada pesan dari kerabat saya yang dekat dengan aktifis lingkungan hidup dan hukum mengenai sebuah film dokumenter dengan judul Sexy Killers.

Berikut link film tersebut: https://youtu.be/qlB7vg4I-To

Link tersebut sangat cepat menyebar dalam hitungan hari. Dokumentasi hal kecil yaitu penggunaan batu bara sebagai pembangkit energi listrik. Secara garis besar sudut pandang yang digunakan adalah dari masyarakat, serta aktifis lingkungan hidup.

Secara garis besar dalam video tersebut mendokumentasikan penggunaan batu bara sebagai sumber energi listrik untuk skala nasional Indonesia melalui pembangkit listrik tenaga uap. Penjelasan mengenai sumber batu bara tersebut ditambang, serta dampak secara langsung terhadap ekosistem hutan, pertanian masyarakat, kerusakan terumbu karang laut selama pengiriman dengan tongkang, serta dampak dari ekosistem laut yang menyebabkan kurangnya jumlah tangkapan ikan oleh nelayan.

Selepas permasalahan politik yang disebutkan dalam kepemilikan saham dan operasi perusahaan yang disebutkan, saya justru lebih berkonsentrasi dengan pembangkit listrik. Dalam film dokumenter tersebut terdapat penekanan mengenai pembangunan PLTU batu bara yang baru untuk memenuhi kebutuhan energi listrik, sedangkan disebutkan juga dengan perbandingan menggunakan alternatif lain dengan yang lebih ramah lingkungan.

Indonesia memiliki potensi yang besar di bidang sumber energi hijau, antara lain panas bumi, surya, angin Bahkan ombak. Untuk mengejar ketertinggalan, menurut saya diperlukan penelitian lebih lanjut dengan potensi tiap area. Pembangunan dapat dilakukan tidak perlu besar, namun merata pada tiap area tertentu. Sehingga jalur distribusi dapat diperpendek dan meminimalisir loses akibat dari pendistribusian listrik.

Pemerintah lebih berperan kepada pembuatan regulasi yang dapat menjamin keberlangsungan serta konsistensi dalam perbaikan teknologi di bidang pembangkit listrik. Dapat dimulai dengan penggalakan input output pada pencatat meter listrik, sehingga bangunan yang memliki pembangkit dapat menjual listrik kepada PLN dalam skala mikro, agar dapat menstabilkan jumlah permintaan di daerah tersebut. Dapat juga dilakukan pembuatan pembangkit listrik dengan pemberdayaan BUMD di bawah pemerintah daerah.

Dengan pemerataan tersebut, suatu area dapat menopang daerahnya sendiri dari aspek energi listrik saja. Mengenai sumber pembangkit dapat bervariasi, tergantung dari potensi terbaik apa yang dapat digunakan di daerah tersebut yang juga peran pemerintah untuk dapat mengetahui potensi tersebut melalui riset.

Wisesa, 2019

Berdiri Di Atas Kaki Sendiri

Ungkapan itu sudah berkali-kali aku dengar semenjak masih belum bisa lancar dan fasih membaca. Didikan nasionalisme dan marhaenisme sangat kental dalam keluarga. Berlatar belakang dari kakek seorang sekretaris Partai Nasionalis Indonesia di daerah, ayah seorang aktifis banteng semasa kuliah menjadikan pokok pikiran itu mengakar kuat dan menurunkan kepada anaknya yang terlalu muda pada masa itu.

Karena itulah membentuk saya menjadi pribadi yang bersifat keras dan selalu ingin tahu. Memiliki prinsip kuat bahwa kita hidup itu atas dasar kemampuan, kemauan dan usaha. Pemberian itu tidak masuk hitungan, namun bukan berarti menolak pemberian. Segala sesuatu harus dipertanyakan dan memiliki alasan yang kongkret. Segala sesuatu tidaklah kebetulan, dan segala sesuatu punya tujuan.

Mungkin pada artikel sebelumnya saya sudah membicarakan mengenai keputusan saya dalam karir. Ya saya mengambil resiko berat dan sampai saat inipun saya masih merasa ini semua berat. Namun satu hal yang saya pegang teguh. Apa yang saya bangun, itu untuk diri saya sendiri dan saya memiliki hak penuh untuk apa saya bangun dan kepada siapa akan saya alihkan.

Saya sadar bahwa manusia pasti ada akhirnya. Bagaimana cara saya bertanggung jawab dengan hidup itu? Sejauh yang saya tahu adalah meninggalkan jasa dan nama. Semua itu perlu dilakukan untuk berkelanjutan generasi penerus. Transfer visi harus dilakukan seperti yang sudah dilakukan okeh generasi pendahulu saya.

Segala sesuatu tidak pernah boleh dalam keadaan sia-sia. Semua sudah dibayarkan dalam segala bentuk, maka harus dilanjutkan.

Keputusan Dalam Karir

Setelah sekian lama lulus menjadi sarjana pada desember 2015 terdapat banyak opsi dalam kepala. Saat itu saya dalam perantauan dalam mengemban pendidikan saya. masih dalam satu pulau namun terbentang beberapa ratus kilometer dari rumah saya. dalam benak saya waktu itu masih sangat semangat untuk terus belajar melalui jalur pendidikan.

Timbulah penawaran dari orang tua untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri. Saat itu luar biasa semangat saya saat mendapatkan penawaran itu. Saya mempersiapkan diri untuk mengikuti pelatihan bahasa sebagai dasar saya untuk melaksanakan pendidikan tersebut. Masih sangat kuat dalam ingatan saya saat itu saya mengambil pendidikan Bahasa Inggris untuk mendapatkans sertifikasi IELTS. setahun lamanya saya berusaha hingga 3 kali tes dan mendapatkan batas minimum dan saya mampu untuk melanjutkan proses pendaftaran.

Namun kenyataan berkata lain. Ayah saya yang seorang pensiunan dari BUMN terkemuka pensiun dan setelah lama saya berdiskusi dengan keluarga serta melihat kenyataan keuangan keluarga ternyata kami mengalami kejatuhan finansial. Biaya saya untuk kuliah di luar negeri tidak ada lagi karena digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kenyataan tersebut membuat saya untuk memutar otak. Kekecewaan dan amarah timbul instant dan stabil dalam tahun pertama saya menghadapi kenyataan tersebut. Semua sertifikasi itu dengan berat hati harus dibereskan masuk ke dalam arsip pendidikan dan tersimpan rapi di lemari dokumen pendidikan. Hanya satu yang saya fikirkan saat itu, apa yang harus saya lakukan untuk tetap belajar namun tidak membutuhkan biaya yang besar. Gelar sudah tidak lagi masuk dalam hitungan kala itu.

Berbuah hasil dari pemikiran keras untuk saya berkerja sebagai marketing dalam suatu perusahaan kecil milik rekan ayah saat dulu aktif berkerja. Saya terima penawaran tersebut. Saya hanya menerima gaji di bawah rata-rata untuk gelar saya. Suatu kenyataan pelik dimana saya tidak bisa menabung untuk masa depan saya. Apa yang saya terima hanya cukup untuk tidak menerima uang jajan dari orang tua saya. Tapi waktu itu adalah waktu dimana saya sangat bersyukur karena dapat mengurangi beban dari orang tua saya secara signifikan.

Ada hal lain yang saya terima selama saya berkerja saat itu. Saya mendapatkan kepercayaan dari atasan untuk mengelola produk dan perkembangan perusahaan dalam penjualan dan alur perusahaan berkembang. Dikarenakan perusahaan yang tidak besar maka kerja tim sangat kuat. Saling mengisi dan melaksanakan tugas yang jelas-jelas bukan bidang saya menjadi kegiatan sehari-hari. Dari latar belakang saya sebagai seorang Teknologi Pertanian, saya belajar mengenai keuangan, Pajak, bahkan gambar Teknik. Jadi yang saya terima tidak hanya uang, namun pengalaman.

Keputusan besar itu saya ambil pada Juli 2018. saya memutuskan untuk keluar dari perusahaan tersebut. Surat pengajuan pengunduran diri saya ajukan kepada atasan saya, dan pemilik perusahaan saya. Namun mereka keberatan sehingga saya masih ditahan selama beberapa bulan dengan alasan yang dapat saya terima. Saya sadar kehadiran saya dan fungsi saya dalam perusahaan saat itu sangat penting. Atasan sayapun  tahu bahwa finansial bukanlah alasan utama saya mengundurkan diri. Mereka tahu bahwa saya haus untuk belajar lebih. Hingga saya benar-benar diperbolehkan mengundurkan diri pada oktober 2018.

Pada mulanya orang tua saya sudah mempunyai sebuah perusahaan yang nihil sejak 2012. Sebelum perusahaan tersebut keluarga saya sudah pernah beberapa perusahaan dan usaha yang berkerja sama dengan saudara dan rekan, namun kandas. Kepercayaan dan kejujuran adalah hal yang esensial saat melakukan usaha. Perusahaan tersebut dibuat dengan nama saya menjadi salah satu pemegang saham karena penting berkerja konsisten dalam kepercayaan dan kejujuran.

Saya bertekat untuk melanjutkan usaha tersebut. Perusahaan yang mati suri tersebut saya mulai dengan banyaknya sertifikat yang tidak berlaku. Saya meniti perlahan dan mendapati saya seperti membangun dari awal, bahkan lebih sulit dari membangun dari awal. Saya tidak bermodalkan uang, hanya nekat saja kala itu. Namun apa yang saya terima? jauh lebih besar. Saya mengurus benar-benar sendiri dengan modal seadanya yang dibantu orang tua dan banyak moral yang diterima menjadikan saya mengerti banyak mengenai ini.

Hingga saat ini mungkin masih dalam perjalanan menuju usaha yang lebih stabil dan benar-benar masih oleng. Saya hanya dapat percaya, apa yang saya kerjakan dapat berbuah hasil.

Ketika Harapan Terperangkap Realita

Semua orang punya titik mulai. Mereka biasanya belajar untuk berfikir sesuatu dan mendapatkan alur yang terbentuk dari cara memandang sebab dan akibat dari apa yang mereka lihat atau rasakan padan alur waktu lampau mereka. Menjadikan itu disebut dengan logika.

Logika itu menjadikan mereka memintal serpihan-serpihan kecil kapas yang mereka terima menjadi benang atau terus berlanjut hingga menjadi kain bahkan pakaian jadi yang anggun. Itu disebut dengan harapan.

Tapi sadarlah itu masih di dalam kepala saja. Belum ada kepastian karena hidup tidak semulus alur logika kita yang yang tidak mengenal kompleksitas sebab akibat yang bahkan kita sendiri tidak terka akan hadirnya. Semua tidak tertuang dalam realita yang menjadikan semua hanya terjadi di dunia ide.

Maka dari itu justru banyak seorang pemikir tetap menjadi pemikir. Mereka hanya bersenang-senang dengan apa yang mereka ciptakan di kepala dan berakhir dengan lupa dimulai dari mana karena alur fikir yang terlalu panjang. Mereka terfokus dengan memintal panjang, menenun lembar dan berakhir menjahit, hingga saat ada yang bertanya dimanakah ia mulai? Mereka tak tahu pangkal mana dia mulai karena terjebak alur pembuatan dan melahirkan ekspektasi yang berlebihan. Mereka sadar bahwa itu sama sekali dimulai.

Mengapa tidak memulai apa yang difikirkan dan melakukan sesuai dengan apa yang terjadi di lapangan. Itu akan membuat segala sesuatu seimbang antara ruang ide dan ruang material. Dengan kebersamaan itu maka akan terjadi kesinambungan hasil. Logika akan terpintal sembari material yang terus bergerak sesuatu sesuai dengan apa yang ada di kepala dan tidak hanya sekadar harapan atau bahkan hanya sekadar utopia.

Sudahlah, jangan terbiasa berfikir terlalu jauh karena segalanya pasti akan sesuai dengan alur kompleksitas material. Banyak faktor yang bisa menjadikan apa yang disiapkan gagal begitu saja hanya karena hal sepele yang menjadikan usaha untuk berfikir keras yang lalu sia-sia. Mungkin bisa melahirkan depresi.

Siapa lah yang mau terjebak didalam fikirannya sendiri dan terkunci dari dunia luar. Itu semua akan sia-sia karena yang ada di luar tak bisa lihat apa hasilmu di dalam sana