Sharing: Pembuatan Bahan Baku Suplemen Genistein Dari Kedelai Melalui Proses Fermentasi

images (5).jpeg

Salam saudara-saudara.

Kali ini saya akan membagikan penelitian yang saya jalankan selama berkuliah di jurusan teknologi industri pertanian, Universitas Brawijaya. Penelitian tersebut saya lakukan dalam rentan tahun 2014-2015 untuk memenuhi tugas akhir selama saya berkuliah.

Berikut judul berserta link jurnal yang dapat anda lihat dan unduh.

DEGRADASI IKATAN GLIKOSIDA PADA KEDELAI DENGAN INOKULASI MIKROORGANISME UNTUK SUPLEMEN MAKANAN TINGGI ISOFLAVON (KAJIAN JENIS DAN PERSENTASE MIKROORGANISME)

unduh di sini

Secara garis besar penelitian saya menggunakan bahan baku kedelai yang didapatkan dari koperasi produsen tempe di daerah Sanan, Kota Malang. Proses fermentasi dilakukan untuk mengindikasikan adanya kenaikan kandungan Genistein pada hasil ekstrak menggunakan Ethanol.

Metode pengujian menggunakan alat uji Spectrophotometric dengan larutan standar quercetin. Pengujian dilakukan dengan tiga kali perulangan.

Mengenai hasil dari penelitian saya dapat diketahui dalam lampiran unduhan di atas. Semoga dapat bermanfaat bagi saudara-saudara.

Wisesa, 2019.

Pemilihan Umum 17 April 2019

Setelah melewati beberapa bulan panas setelah deklarasi calon presiden berserta wakilnya akhirnya hari ini datang juga. Hari dimana pesta demokrasi rakyat Republik Indonesia berjalan memberikan hak politiknya serentak untuk di dalam negeri. Pemilihan di luar Negeri sudah dilaksanakan namun perhitungan masih tetap dilaksanakan hari ini. Untuk tiap tempat pengambilan suara luar Negeri.

Pemilihan tahun ini pada dasarnya bisa dibilang pemilihan ulang karena calon presiden yang maju masih tetap sama. Perbedaan ada di calon wakil presiden masing-masing. Keberbedaan tersebut yang saat ini menjadikan tingkat kesadaran politik masyarakat meningkat.

Terlihat hampir di setiap TPS terlihat ramai dengan antusiasme pemilih. Tempat saya bahkan masyarakat sudah antri sejak 30 menit sebelum TPS dibuka. Solidaritas terlihat jelas. Semua memiliki harapan pada pilihannya.

Yang patut disayangkan adalah jumlah surat suara yang sebanyak 5 buah menjadikan pemilih bingung untuk mengambil keputusan, terlebih untuk 4 surat suara selain calon presiden dan wakil. Animo masyarakat tergiring dan terfokus hanya pada pemilihan presiden dan wakilnya. Hal ini menyebabkan masyarakat hanya sedikit mengerti dan berbuah kebingungan dalam memilih. Visi misi mereka kurang tersampaikan, kalah diterjang visi misi dari capres dan cawapres.

Mungkin ada baiknya terdapat jeda waktu untuk memberi kesempatan calon legislatif untuk diambil suaranya. Pada dasarnya, legislatif dan eksekutif sama pentingnya.

Berdiri Di Atas Kaki Sendiri

Ungkapan itu sudah berkali-kali aku dengar semenjak masih belum bisa lancar dan fasih membaca. Didikan nasionalisme dan marhaenisme sangat kental dalam keluarga. Berlatar belakang dari kakek seorang sekretaris Partai Nasionalis Indonesia di daerah, ayah seorang aktifis banteng semasa kuliah menjadikan pokok pikiran itu mengakar kuat dan menurunkan kepada anaknya yang terlalu muda pada masa itu.

Karena itulah membentuk saya menjadi pribadi yang bersifat keras dan selalu ingin tahu. Memiliki prinsip kuat bahwa kita hidup itu atas dasar kemampuan, kemauan dan usaha. Pemberian itu tidak masuk hitungan, namun bukan berarti menolak pemberian. Segala sesuatu harus dipertanyakan dan memiliki alasan yang kongkret. Segala sesuatu tidaklah kebetulan, dan segala sesuatu punya tujuan.

Mungkin pada artikel sebelumnya saya sudah membicarakan mengenai keputusan saya dalam karir. Ya saya mengambil resiko berat dan sampai saat inipun saya masih merasa ini semua berat. Namun satu hal yang saya pegang teguh. Apa yang saya bangun, itu untuk diri saya sendiri dan saya memiliki hak penuh untuk apa saya bangun dan kepada siapa akan saya alihkan.

Saya sadar bahwa manusia pasti ada akhirnya. Bagaimana cara saya bertanggung jawab dengan hidup itu? Sejauh yang saya tahu adalah meninggalkan jasa dan nama. Semua itu perlu dilakukan untuk berkelanjutan generasi penerus. Transfer visi harus dilakukan seperti yang sudah dilakukan okeh generasi pendahulu saya.

Segala sesuatu tidak pernah boleh dalam keadaan sia-sia. Semua sudah dibayarkan dalam segala bentuk, maka harus dilanjutkan.

Keputusan Dalam Karir

Setelah sekian lama lulus menjadi sarjana pada desember 2015 terdapat banyak opsi dalam kepala. Saat itu saya dalam perantauan dalam mengemban pendidikan saya. masih dalam satu pulau namun terbentang beberapa ratus kilometer dari rumah saya. dalam benak saya waktu itu masih sangat semangat untuk terus belajar melalui jalur pendidikan.

Timbulah penawaran dari orang tua untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri. Saat itu luar biasa semangat saya saat mendapatkan penawaran itu. Saya mempersiapkan diri untuk mengikuti pelatihan bahasa sebagai dasar saya untuk melaksanakan pendidikan tersebut. Masih sangat kuat dalam ingatan saya saat itu saya mengambil pendidikan Bahasa Inggris untuk mendapatkans sertifikasi IELTS. setahun lamanya saya berusaha hingga 3 kali tes dan mendapatkan batas minimum dan saya mampu untuk melanjutkan proses pendaftaran.

Namun kenyataan berkata lain. Ayah saya yang seorang pensiunan dari BUMN terkemuka pensiun dan setelah lama saya berdiskusi dengan keluarga serta melihat kenyataan keuangan keluarga ternyata kami mengalami kejatuhan finansial. Biaya saya untuk kuliah di luar negeri tidak ada lagi karena digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kenyataan tersebut membuat saya untuk memutar otak. Kekecewaan dan amarah timbul instant dan stabil dalam tahun pertama saya menghadapi kenyataan tersebut. Semua sertifikasi itu dengan berat hati harus dibereskan masuk ke dalam arsip pendidikan dan tersimpan rapi di lemari dokumen pendidikan. Hanya satu yang saya fikirkan saat itu, apa yang harus saya lakukan untuk tetap belajar namun tidak membutuhkan biaya yang besar. Gelar sudah tidak lagi masuk dalam hitungan kala itu.

Berbuah hasil dari pemikiran keras untuk saya berkerja sebagai marketing dalam suatu perusahaan kecil milik rekan ayah saat dulu aktif berkerja. Saya terima penawaran tersebut. Saya hanya menerima gaji di bawah rata-rata untuk gelar saya. Suatu kenyataan pelik dimana saya tidak bisa menabung untuk masa depan saya. Apa yang saya terima hanya cukup untuk tidak menerima uang jajan dari orang tua saya. Tapi waktu itu adalah waktu dimana saya sangat bersyukur karena dapat mengurangi beban dari orang tua saya secara signifikan.

Ada hal lain yang saya terima selama saya berkerja saat itu. Saya mendapatkan kepercayaan dari atasan untuk mengelola produk dan perkembangan perusahaan dalam penjualan dan alur perusahaan berkembang. Dikarenakan perusahaan yang tidak besar maka kerja tim sangat kuat. Saling mengisi dan melaksanakan tugas yang jelas-jelas bukan bidang saya menjadi kegiatan sehari-hari. Dari latar belakang saya sebagai seorang Teknologi Pertanian, saya belajar mengenai keuangan, Pajak, bahkan gambar Teknik. Jadi yang saya terima tidak hanya uang, namun pengalaman.

Keputusan besar itu saya ambil pada Juli 2018. saya memutuskan untuk keluar dari perusahaan tersebut. Surat pengajuan pengunduran diri saya ajukan kepada atasan saya, dan pemilik perusahaan saya. Namun mereka keberatan sehingga saya masih ditahan selama beberapa bulan dengan alasan yang dapat saya terima. Saya sadar kehadiran saya dan fungsi saya dalam perusahaan saat itu sangat penting. Atasan sayapun  tahu bahwa finansial bukanlah alasan utama saya mengundurkan diri. Mereka tahu bahwa saya haus untuk belajar lebih. Hingga saya benar-benar diperbolehkan mengundurkan diri pada oktober 2018.

Pada mulanya orang tua saya sudah mempunyai sebuah perusahaan yang nihil sejak 2012. Sebelum perusahaan tersebut keluarga saya sudah pernah beberapa perusahaan dan usaha yang berkerja sama dengan saudara dan rekan, namun kandas. Kepercayaan dan kejujuran adalah hal yang esensial saat melakukan usaha. Perusahaan tersebut dibuat dengan nama saya menjadi salah satu pemegang saham karena penting berkerja konsisten dalam kepercayaan dan kejujuran.

Saya bertekat untuk melanjutkan usaha tersebut. Perusahaan yang mati suri tersebut saya mulai dengan banyaknya sertifikat yang tidak berlaku. Saya meniti perlahan dan mendapati saya seperti membangun dari awal, bahkan lebih sulit dari membangun dari awal. Saya tidak bermodalkan uang, hanya nekat saja kala itu. Namun apa yang saya terima? jauh lebih besar. Saya mengurus benar-benar sendiri dengan modal seadanya yang dibantu orang tua dan banyak moral yang diterima menjadikan saya mengerti banyak mengenai ini.

Hingga saat ini mungkin masih dalam perjalanan menuju usaha yang lebih stabil dan benar-benar masih oleng. Saya hanya dapat percaya, apa yang saya kerjakan dapat berbuah hasil.

Ketika Harapan Terperangkap Realita

Semua orang punya titik mulai. Mereka biasanya belajar untuk berfikir sesuatu dan mendapatkan alur yang terbentuk dari cara memandang sebab dan akibat dari apa yang mereka lihat atau rasakan padan alur waktu lampau mereka. Menjadikan itu disebut dengan logika.

Logika itu menjadikan mereka memintal serpihan-serpihan kecil kapas yang mereka terima menjadi benang atau terus berlanjut hingga menjadi kain bahkan pakaian jadi yang anggun. Itu disebut dengan harapan.

Tapi sadarlah itu masih di dalam kepala saja. Belum ada kepastian karena hidup tidak semulus alur logika kita yang yang tidak mengenal kompleksitas sebab akibat yang bahkan kita sendiri tidak terka akan hadirnya. Semua tidak tertuang dalam realita yang menjadikan semua hanya terjadi di dunia ide.

Maka dari itu justru banyak seorang pemikir tetap menjadi pemikir. Mereka hanya bersenang-senang dengan apa yang mereka ciptakan di kepala dan berakhir dengan lupa dimulai dari mana karena alur fikir yang terlalu panjang. Mereka terfokus dengan memintal panjang, menenun lembar dan berakhir menjahit, hingga saat ada yang bertanya dimanakah ia mulai? Mereka tak tahu pangkal mana dia mulai karena terjebak alur pembuatan dan melahirkan ekspektasi yang berlebihan. Mereka sadar bahwa itu sama sekali dimulai.

Mengapa tidak memulai apa yang difikirkan dan melakukan sesuai dengan apa yang terjadi di lapangan. Itu akan membuat segala sesuatu seimbang antara ruang ide dan ruang material. Dengan kebersamaan itu maka akan terjadi kesinambungan hasil. Logika akan terpintal sembari material yang terus bergerak sesuatu sesuai dengan apa yang ada di kepala dan tidak hanya sekadar harapan atau bahkan hanya sekadar utopia.

Sudahlah, jangan terbiasa berfikir terlalu jauh karena segalanya pasti akan sesuai dengan alur kompleksitas material. Banyak faktor yang bisa menjadikan apa yang disiapkan gagal begitu saja hanya karena hal sepele yang menjadikan usaha untuk berfikir keras yang lalu sia-sia. Mungkin bisa melahirkan depresi.

Siapa lah yang mau terjebak didalam fikirannya sendiri dan terkunci dari dunia luar. Itu semua akan sia-sia karena yang ada di luar tak bisa lihat apa hasilmu di dalam sana

Alur Rantai

Waktu berjalan berlalu dan berliku. Ah itu semua dirasakan semua orang. Mereka berperang dengan dirinya sendiri. Duduk diam menatap kosong. Karena ia sibuk dengan alur kepala mereka sendiri. Setidaknya mereka bisa berhenti melakukan itu dan kembali untuk menggerakan alur pikir mereka ke material di sekitarnya.

Bagaimana dengan pikiran di suasana gelap, hanya terdengar dentuman detik jarum yang cepat dari jam. Terasa tidak konstan pada tiap detiknya. Terasa getaran dari jantung dan denyut nadi seperti mengguncang tubuh yang terlentang? Sulit untuk mencegah alur fikir disaat seperti ini. Pikiran satu berlanjut ke pikiran selanjutnya bersambung seperti untaian pengunci membentuk rantai tidak henti. Lelah rasanya jika ini terus bergulir.

Ada masanya disaat aku tak kuasa mengkontrolnya kubiarkan saja hingga berlanjut ke mimpi dan menghasilkan realita baru dalam kepala. Kadangpun aku bingung membedakan realita materialistik dan realita logika ku. Semua terasa materialistik. Melahirkan dejavu yang sebenarnya sudah terprediksi dari lahirnya untaian rantai logika itu.

Ayolah kepalaku. Tidakkah kau bisa bersahabat malam ini saja. Istirahatlah seperti organ lain. Tidak kah kau lelah?

Kembali Memilih

Mulanya aku tau rasa ini. Waktu dimana aku terikat janji dengan yang lain memaksaku untuk membohongi diriku. Itu terjadi dimasa ku pertama kali hidup dengan kebebasanku sendiri tanpa ada yang mebatasi langsung.

Ya, di kota seberang, tak melewati laut. Di tempat aku belajar tentang tanggung jawab dan janji. Memang tidak kuingkari, namun semua bergulir yang menciptakan luka dengan sedikit garam di atasnya. Kandas saat itu.

Kufikir menimpali dengan hal lainnya yang cepat itu bisa mengobati! Nyatanya? Hampa jua. Kulewati masa itu. Kuberubah menjadi semakin keras. Membatu. Menghantam sekitar dan memecahkan kepribadianku. Kukira ku pecah! Ternyata belum.

Tiba saatnya ku yakin untuk memulai dengan yang terdekat. Kukira kukenal dia. Ternyata tidak sama sekali. Berbuah selisih. Kecewa dan kupecah kali ini. Apatis.

Hingga masa kusadari. Dia yang dulu kudamba entah kenapa hadir. Dikotaku. Dijangkauanku. Dengan rasa yang sama saat delapan tahun yang lalu.

Apakah semesta bergerak demikian?

Haruskah ku kembali memilih? Atau kami berdua bertanya hal yang sama?

Note Terakhir dari Media Sosial Path

Path, kamu cuma jadi pathway.
Mengapa pathwaymu pun tersapu dengan derasnya media sosial lainnya?
Wadah dimana membuat pathway tersebut tersingkron dengan wordpress.
Tulisan panjang dan pecahan kepala yang tak tertuangpun sirna jua.
Setidaknya memory itu juga tersapu bersama hilangnya media ini.
Tergantikan dengan cerita baru.
Memory baru.
Tempat baru.
Wadah baru.
Ritme baru.
Pribadi baru.

Terima kasih path dengan segala dramamu.
Dengan segala kelabilan masa-masa itu.

Ini akan tersingkron dengan wordpress.
Agar kau bisa dikenang path.

Path apakah nama lengkapmu Pathimura?
Atau kau menjangkit seperti Pathogen?
Mungkin dia seperti alunan musik Pathura (pantura goblog)
Atau path hanya sekadar path.
Ah, bisa saja.

View on Path

Suatu Kepercayaan yang Melelahkan

Waktu itu terfikir untuk tidak memberikan surat yang kusiapkan sejak semalam. Surat dimana ada tanda tangan yang kububuhi dengan tinta basah, menunjukan kemantapan hatiku untuk mengajukannya. Untuk apa kusiapkan ini semua? Jika hatipun masih bimbang.

Saat ini terasa dimana hati dan logika berperang seperti waktu sebelumnya. Ini adalah waktu dimana pilihan antara aku yang terjebak dengan masa lalu atau terjebak dengan ekspektasi. Apakah perlu kurasa ini lagi? Berperang lagi?

Aku memang belajar banyak di tempat ini. Diatas meja kecil yang penuh dengan komputer dan printer hingga tak ada lagi ruang untuk ku menaruh dokumen penunjangku. Waktu dimana ku belajar tentang kesalahan fatal dan kepercayaan yang kudapatkan.

Namun aku lelah.

Aku tau aku bisa melakukan lebih dari ini. Aku tau kepercayaan itu bisa aku dapatkan lebih lagi untuk mereka yang jauh lebih membutuhkanku.

Apakah mapan yang kucari? Uang? Pamor? Tidak rasanya. Ku hanya mencari dimana tempat yang bisa menerimaku sebagai seorang pengubah hidup mereka.

Teringat dengan diskusi waktu lalu dengan seorang ibu dengan karir yang luar biasa. Teringat ujaran beliau kalau aku masih muda dan belum sadar akan kebutuhan uang. Ya setidaknya memang belum. Ada saatnya kuberusaha ke sana memberi makan anakku memfasilitasi istriku. Tapi itu belum. Bahkan tak ada bayangan sedikitpun mengenai itu.

Yang kuhadapi sekarang adalah perang mengenai lompatan besarku.

Ya, surat ini yang akan kuberikan.

Surat pengunduran diri sebagai pekerja.