Setelah sekian lama lulus menjadi sarjana pada desember 2015 terdapat banyak opsi dalam kepala. Saat itu saya dalam perantauan dalam mengemban pendidikan saya. masih dalam satu pulau namun terbentang beberapa ratus kilometer dari rumah saya. dalam benak saya waktu itu masih sangat semangat untuk terus belajar melalui jalur pendidikan.
Timbulah penawaran dari orang tua untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri. Saat itu luar biasa semangat saya saat mendapatkan penawaran itu. Saya mempersiapkan diri untuk mengikuti pelatihan bahasa sebagai dasar saya untuk melaksanakan pendidikan tersebut. Masih sangat kuat dalam ingatan saya saat itu saya mengambil pendidikan Bahasa Inggris untuk mendapatkans sertifikasi IELTS. setahun lamanya saya berusaha hingga 3 kali tes dan mendapatkan batas minimum dan saya mampu untuk melanjutkan proses pendaftaran.
Namun kenyataan berkata lain. Ayah saya yang seorang pensiunan dari BUMN terkemuka pensiun dan setelah lama saya berdiskusi dengan keluarga serta melihat kenyataan keuangan keluarga ternyata kami mengalami kejatuhan finansial. Biaya saya untuk kuliah di luar negeri tidak ada lagi karena digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kenyataan tersebut membuat saya untuk memutar otak. Kekecewaan dan amarah timbul instant dan stabil dalam tahun pertama saya menghadapi kenyataan tersebut. Semua sertifikasi itu dengan berat hati harus dibereskan masuk ke dalam arsip pendidikan dan tersimpan rapi di lemari dokumen pendidikan. Hanya satu yang saya fikirkan saat itu, apa yang harus saya lakukan untuk tetap belajar namun tidak membutuhkan biaya yang besar. Gelar sudah tidak lagi masuk dalam hitungan kala itu.
Berbuah hasil dari pemikiran keras untuk saya berkerja sebagai marketing dalam suatu perusahaan kecil milik rekan ayah saat dulu aktif berkerja. Saya terima penawaran tersebut. Saya hanya menerima gaji di bawah rata-rata untuk gelar saya. Suatu kenyataan pelik dimana saya tidak bisa menabung untuk masa depan saya. Apa yang saya terima hanya cukup untuk tidak menerima uang jajan dari orang tua saya. Tapi waktu itu adalah waktu dimana saya sangat bersyukur karena dapat mengurangi beban dari orang tua saya secara signifikan.
Ada hal lain yang saya terima selama saya berkerja saat itu. Saya mendapatkan kepercayaan dari atasan untuk mengelola produk dan perkembangan perusahaan dalam penjualan dan alur perusahaan berkembang. Dikarenakan perusahaan yang tidak besar maka kerja tim sangat kuat. Saling mengisi dan melaksanakan tugas yang jelas-jelas bukan bidang saya menjadi kegiatan sehari-hari. Dari latar belakang saya sebagai seorang Teknologi Pertanian, saya belajar mengenai keuangan, Pajak, bahkan gambar Teknik. Jadi yang saya terima tidak hanya uang, namun pengalaman.
Keputusan besar itu saya ambil pada Juli 2018. saya memutuskan untuk keluar dari perusahaan tersebut. Surat pengajuan pengunduran diri saya ajukan kepada atasan saya, dan pemilik perusahaan saya. Namun mereka keberatan sehingga saya masih ditahan selama beberapa bulan dengan alasan yang dapat saya terima. Saya sadar kehadiran saya dan fungsi saya dalam perusahaan saat itu sangat penting. Atasan sayapun tahu bahwa finansial bukanlah alasan utama saya mengundurkan diri. Mereka tahu bahwa saya haus untuk belajar lebih. Hingga saya benar-benar diperbolehkan mengundurkan diri pada oktober 2018.
Pada mulanya orang tua saya sudah mempunyai sebuah perusahaan yang nihil sejak 2012. Sebelum perusahaan tersebut keluarga saya sudah pernah beberapa perusahaan dan usaha yang berkerja sama dengan saudara dan rekan, namun kandas. Kepercayaan dan kejujuran adalah hal yang esensial saat melakukan usaha. Perusahaan tersebut dibuat dengan nama saya menjadi salah satu pemegang saham karena penting berkerja konsisten dalam kepercayaan dan kejujuran.
Saya bertekat untuk melanjutkan usaha tersebut. Perusahaan yang mati suri tersebut saya mulai dengan banyaknya sertifikat yang tidak berlaku. Saya meniti perlahan dan mendapati saya seperti membangun dari awal, bahkan lebih sulit dari membangun dari awal. Saya tidak bermodalkan uang, hanya nekat saja kala itu. Namun apa yang saya terima? jauh lebih besar. Saya mengurus benar-benar sendiri dengan modal seadanya yang dibantu orang tua dan banyak moral yang diterima menjadikan saya mengerti banyak mengenai ini.
Hingga saat ini mungkin masih dalam perjalanan menuju usaha yang lebih stabil dan benar-benar masih oleng. Saya hanya dapat percaya, apa yang saya kerjakan dapat berbuah hasil.