Mulanya aku tau rasa ini. Waktu dimana aku terikat janji dengan yang lain memaksaku untuk membohongi diriku. Itu terjadi dimasa ku pertama kali hidup dengan kebebasanku sendiri tanpa ada yang mebatasi langsung.
Ya, di kota seberang, tak melewati laut. Di tempat aku belajar tentang tanggung jawab dan janji. Memang tidak kuingkari, namun semua bergulir yang menciptakan luka dengan sedikit garam di atasnya. Kandas saat itu.
Kufikir menimpali dengan hal lainnya yang cepat itu bisa mengobati! Nyatanya? Hampa jua. Kulewati masa itu. Kuberubah menjadi semakin keras. Membatu. Menghantam sekitar dan memecahkan kepribadianku. Kukira ku pecah! Ternyata belum.
Tiba saatnya ku yakin untuk memulai dengan yang terdekat. Kukira kukenal dia. Ternyata tidak sama sekali. Berbuah selisih. Kecewa dan kupecah kali ini. Apatis.
Hingga masa kusadari. Dia yang dulu kudamba entah kenapa hadir. Dikotaku. Dijangkauanku. Dengan rasa yang sama saat delapan tahun yang lalu.
Apakah semesta bergerak demikian?
Haruskah ku kembali memilih? Atau kami berdua bertanya hal yang sama?