Waktu itu terfikir untuk tidak memberikan surat yang kusiapkan sejak semalam. Surat dimana ada tanda tangan yang kububuhi dengan tinta basah, menunjukan kemantapan hatiku untuk mengajukannya. Untuk apa kusiapkan ini semua? Jika hatipun masih bimbang.

Saat ini terasa dimana hati dan logika berperang seperti waktu sebelumnya. Ini adalah waktu dimana pilihan antara aku yang terjebak dengan masa lalu atau terjebak dengan ekspektasi. Apakah perlu kurasa ini lagi? Berperang lagi?

Aku memang belajar banyak di tempat ini. Diatas meja kecil yang penuh dengan komputer dan printer hingga tak ada lagi ruang untuk ku menaruh dokumen penunjangku. Waktu dimana ku belajar tentang kesalahan fatal dan kepercayaan yang kudapatkan.

Namun aku lelah.

Aku tau aku bisa melakukan lebih dari ini. Aku tau kepercayaan itu bisa aku dapatkan lebih lagi untuk mereka yang jauh lebih membutuhkanku.

Apakah mapan yang kucari? Uang? Pamor? Tidak rasanya. Ku hanya mencari dimana tempat yang bisa menerimaku sebagai seorang pengubah hidup mereka.

Teringat dengan diskusi waktu lalu dengan seorang ibu dengan karir yang luar biasa. Teringat ujaran beliau kalau aku masih muda dan belum sadar akan kebutuhan uang. Ya setidaknya memang belum. Ada saatnya kuberusaha ke sana memberi makan anakku memfasilitasi istriku. Tapi itu belum. Bahkan tak ada bayangan sedikitpun mengenai itu.

Yang kuhadapi sekarang adalah perang mengenai lompatan besarku.

Ya, surat ini yang akan kuberikan.

Surat pengunduran diri sebagai pekerja.