
Seiring dengan pertambahan jumlah penduduk, hemat saya menjadikan kebutuhan protein hewani meningkat seiring waktu. Protein tersebut bervariasi, antara lain unggas, mamalia, ataupun ikan.
Protein hewani pada dasarnya adalah perpindahan protein dari pakan yang bersumber dari nabati ataupun hewani yang bisa dikatakan kurang etis untuk dijadikan pangan. Tujuan dari pemberian pakan yang terutama adalah protein agar bisa meningkatkan masa otot dari hewan sumber protein hewani.
Namun dalam proses pembuatan pakan ada sumber lain yang bisa memberi manfaat tambahan yang bisa ditambahkan atau sudah ada di dalam bahan baku. Bagaimana jika dibalik dalam alur pikirnya? Bahan baku yang digunakan sudah memiliki bahan aktif tertentu dan kandungan protein yang ditingkatkan.
Proses fermentasi dapat dilakukan untuk mendapatkan protein tambahan dalam bentuk protein sel tunggal. Beberapa jenis mikro organisme dapat meningkatkan kandungan protein seperti jenis Rhizopus oryzae yang dapat menghasilkan protein sel tunggal pada tempe yang tergolong sebagai super food. Dengan penambahan mikro organisme tersebut berpengaruh terhadap zat bioaktif mikro nutrient pada substratnya.
Sifat mikro organisme yang bersifat memecah zat tersebut dapat diketahui pada penelitian yang pernah saya lakukan terhadap kedelai yang memecah genistin menjadi genistein. Genistein termasuk dalam golongan Isoflavon yang memiliki sifat bioaktif terhadap makhluk hidup.
Dalam penelitian saya sebagai berikut:
DEGRADASI IKATAN GLIKOSIDA PADA KEDELAI DENGAN INOKULASI MIKROORGANISME UNTUK SUPLEMEN MAKANAN TINGGI ISOFLAVON (KAJIAN JENIS DAN PERSENTASE MIKROORGANISME)
Genistein adalah zat yang bersifat esterogen lemah dan secara klinis dapat meningkatkan birahi dan dapat menambah jumlah anak dalam penelitian milik profesor saya. Bahan yang digunakan dapat dengan limbah tempe dalam bentuk kulit ari kedelai atau limbah tahu.
Dengan penambahan ini, maka dapat didapatkan keuntungan ganda antara lain kebutuhan protein dan mendapatkan zat aktif sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Dalam hal ini kebutuhan protein untuk hewan serta jumlah bibit.
Dapat disimpulkan untuk mencapai pemenuhan dapat dilakukan riset yang dapat meningkatkan efisiensi sesuai kebutuhan.
Wisesa, 2019