Dunia Tak Sesempit Meja Kantor
Kutarik kemeja panjangku untuk meraih jam tangan. Bersabukan kulit berjarum tembaga dan berlatar putih. Jam yang terlihat klasik namun tak setua penampakannya. Jam tangan yang sudah menemaniku sejak masa ku belajar di kota yang berkebudayaan berbeda itu masih saja mampu menemaniku.
Baru saja kusampai dan menunggu di kursi kayu klasik yang termakan air hujan. Dibawah naungan payung kunanti seorang yang penting di hari itu. Kurasa dia seorang nona. Kutunggu sang tambaga panjang menunjuk angka 12 agar genap di pukul 3 sore hari. Sudah kusediakan ponselku untuk menghubunginya. Memang ini hanya urusan kantor dan tidak lebih dari itu.
Sembari kutengok sekitarku, kuterka dimana dirinya. Sesekali terkait pandang dengan beberapa orang yang mungkin adalah dia. Mungkin saja. Entah hanya perasaan atau bukan. Kucari lagi dengan lirikan mata cepat namun badan bersender malas karena menyengatnya terik sore itu. Sudahlah berhenti untuk berekspektasi. Kutahu persis apa ganjaran yang harus kuterima dari sebuah ekspektasi. Kutarik ponselku untuk melihat catatan mengenai apa saja yang belum kuselesaikan.
Tak sadar hingga kutarik kembali jam tanganku yang sudah menunjukan pukul 3 tepat. Kulakukan panggilan telepon yang semula ku sediakan nomornya. Kutunggu dan hingga 60 detik panggilan tak ada respon darinya. Mungkin sibuk. Entahlah. Kutinggalkan saja pesan melalui pesan singkat elektronik.
Kusadar dari kejauhan ada sepasang nona berjalan turun dari mobil. Kufikir mereka hanya pelanggan cafe di seberang jalan. Hingga ada satu gerakan kusadar yang sepertinya dia lakukan dan kuterka ia membalas pesanku.
Benar. Suara notifikasi berdering dari telepon selular. Kubalas kembali untuk memastikan bahwa itu adalah dirinya. Ya, dialah seorang yang kutunggu. Kulihat dirinya menaiki tangga cafe di seberang jalan.
Ku menyeberangi jalan dan menuju cafe tempat ia masuki. Ia meminta saya untuk menemuinya di sana.
Ku masih terfokus dengan layar teleponku membalas pesannya. Kuberheti di depan tangga yang ia naiki dan terdengar suara, “Halo pak Windra!” Sambil ia menyodorkan tangannya.
Kuraih tangannya. Pada akhirnya itu lebih dari ekspektasi saya.
Reformasi Logika
Sebuah pemikiran itu terlahir karena adanya kesadaran. Betuk di mana kita teringat suatu saat yang berkaitan dan menyebabkan pemikiran berduga tentang apa yang akan terjadi. Pada mulanya dia tak faham apa makna dari eksistensi dirinya. Hingga ada satu masa dia melihat itu adalah rangkaian yang tak putus dari saat-saat dan menghadirkan suatu masa yang berakhir dengan pemikiran seperti ini.
Dia tak lagi sama. Saat yang menciptakan masa, menjadikan suatu kepribadian baru. Reformasi diri akibat dari rekonstruksi pikiran dari keabstrakan alur logika. Kenapa bisa berubah? Mungkin karena pikiran itu terdistraksi dari kenyataan-kenyataan yang semula sebatas ekspektasi. Ada ketidak cocokan di dalamnya. Tumpang tindih antara satu dengan lainnya adalah sang pelaku.
Pada akhirnya diapun harus mengakui bahwa pikiran sekarin pun dapat berubah karena dia sendiri tidak dapat dapat menahan akan pikirannya sendiri.
Puan?
Menjadi seseorang yang punya sudut pandang majemuk itu melelahkan. Entah apapun yang dilakukan selalu saja tersandung dengan kepala sendiri. Melahirkan jawaban yang bahkan sering bertolak belakang dengan mayoritas orang yang ada di sekitar. Dianggap berbeda itu menjadi jati diri.
Entahlah sampai kapan harus memiliki kepala yang berputar berlogika berhitung tanpa angka bergerak tanpa gaya ini? Bagaimana bisa hidup berdampingan? Jika saja hal seperti ini terus bergulir, tidak berhenti.
Nona mana yang sudi menjadi nyonya? Apa pantas tuan ini menjadikan nona menjadi nyonya? Tak mungkin rasanya. Belum menemukan saja rasanya. Atau memang tidak akan berpasangan? Mungkin.
Tuan tetap menjadi Tuan tanpa Puan.
Hidup?
Apa itu hidup?
terfikir saat rokok sudah separuh bungkus.
waktu terus bergulir dengan pemikiran yang tiada henti ini.
berputar sejalan dengan keinginan akan pencapaian titik tertentu.
apakah itu ekspektasi?
ya titik itu?
mungkin.
akupun belum sampai ke titik itu.
Kapan?
Entahlah.
Segelas Teh Panas Saat Itu
Ada beberapa yang entah kufikirkan selama ini
segalas teh dihadapan ku berembun panas
seperti dansa yang mungkin sedikit menghibur
hingar bingar suasana toko sederhana tak terasa
mungkin mati rasa
oh teringat aku belum menelan sesuatu pagi ini
kutarik lenganku
berusaha menggapai penunjuk waktu di lingkar tanganku
gatal rasanya terkekang si penunjuk waktu
17:45
mengapa harus terkekang waktu?
kenapa semua yang sudah terlewati tak bisa diulang?
selalu saja bergulir kebodohan
berbuah pahit
manispun sesaat
terasa semakan gundah di dalam mengunggu kehadirannya
apa ini masalah?
apa harus selalu seperti ini?
iritasi perut hanya sedikit terasa
tertutup ledakan ekspektasi kepala
adrenalin?
mungkin.
rasanya kutatap sesuatu
sulit untuk telihat jelas
meski semuanya nyata di hadapan
hanya fana terasa.
terdengar langkah yang fasih terdengar
lambat laun semua nyata
berdiri di hadapanku dia yang kutunggu
tertarik bibir yang tak seharusnya
After long time..
Yeah, i’m back. After long time I’m not posted anything here. I need something fresh to post here. But I still have no idea. By the way, I’m fresh graduate and become “sarjana”. Now, I’m just plain jobless.
I wanna tell you a story about my “skripsi” (undergraduate thesist or minor thesist… whatever what they called lah). I do my “skripsi” in 1.5 years. It’s usuall for undergraduate people, unless plus a year for me. I am accepted my lecturer projects to do researches about animal feed that can increase libido. Yeah, libido. My lecturer said to me if female animal (specialy rabbit) ate those libido increaser thing, they can produce 3 times many babies. At the same time I think about “How about human? Hmmm… Viagra for girl”. So, I decide to made a research about libido increaser thing for human after I done my lecturer researches (I spent 1.5 years to done those research. Thx mam for sweet 1.5 years).
I made those libido increaser thing from fermented raw soybean and made it into suplements. It’s simillar to “tempe” if you know. So, if you want to your girl(s)friend still in the peak of their libido, keep consume “tempe” everyday and you can do togetherness time as much as you want.
Thx to libido increaser. Now I am a “sarjana”.
Beberapa orang ingin membimbing karena empati.
Mereka menolaknya.
Mereka merasa kesulitan dan menyalahkan karena tidak ada yang peduli terhadap dia.
Saat orang lain berbicara, dia tidak mendengarkan.
Tetapi saat dia berbicara, semua diminta untuk mendengarkan.
Dia mencari orang lain untuk membantunya saat ia kesusahan.
Saat orang lain kesusahan, ia tidak mau sadar.
Siapakah mereka itu?
(Yang tersinggung membaca ini)
View on Path
Sudut pandang
Kenapa sih dia gini? Kok dia punya gaya yang aneh?
Sering kali pertanyaan kaya gt sering keluar dari pikiran kita. Manusia itu ada juga karena keperbedaan tiap2 pribadi. Bukankah keperbedaan itu indah? Tinggal bagaimana cara kita melihat sesuatu.
Pertama, cara melihat sesuatu pada dasarnya bisa dari berbagai sudut. Mungkin rumus yg bisa memperlihatkan seberapa banyak sudut pandang kita. Setiap kita punya 360° sudut, sedangkan itu jika dalam keadaan datar bisa lebih. Mungkin menjadi 360°^2. Seberapa banyak sudut yang bisa kita gunakan. Seperti sesuatu yg ada di tengah dan kita mengelilinginya seperti bola.
Maka yang kedua, tinggal bagaimana kita mau memilih mau dari memandang dari sudut pandang mana. Sebaiknya dengan kehendak bebas kita, kita dapat memilih sisi yang lebih bijak.
Maka dengan sudut pandang yang bijak bisa mempengaruhi jawaban yang juga lebih bijak. Hal ini akan terulang terus sampai kita tidak bisa memilih lagi (mati).
Sesatu yang dimulai dengan positif akan berakhir positif.
Langkah.
1. Sadari sudut pandang
2. Pilih sudut pandang yang bijak
3. Hasil yang bijak
4. Kembali ke bagian pertama
View on Path
Kuliah terasa membosankan.
Karena hanya kuliah 2 mata kuliah seminggu.
Bosan karna ga ada kerjaan.
Supaya tidak bosan carilah kerjaan.
Contohnya?
Kerjakan SKRIPSI!
View on Path
via