Link: Made in Siberut Documentary

Budaya daerah Siberut tergolong unik. Seperti banyak daerah di Indonesia, Siberut juga memiliki kepercayaan lokal yang unik. Film dokumenter tersebut dimulai dengan narasi demikian, namun apa yang dimaksudkan secara garis besar bukan mengenai kepercayaan tetapi mengenai budaya pangan masyarakat di sana.

Pola konsumsi pangan lokal di daerah Siberut mulanya adalah konsumsi sagu dan keladi sebagai sumber karbohidrat. Masyarakat Siberut mengolah sagu dengan metode penepungan basah yang mirip seperti dilakukan oleh masyarakat di timur Indonesia. Sedangkan keladi disiapkan dengan proses perebusan saja dan penumbukan.

Perubahan pola konsumsi muncul setelah ada pengenalan masyarakat dengan beras padi. Perlahan masyarakat Siberut pada generasi selanjutnya mulai terbiasa dengan konsumsi nasi. Masyarakat secara merata dikenalkan dengan pertanian beras seiiringan dengan program transmigrasi pada masa lampau.

Permasalahan timbul ketika lahan gambut yang digunakan sebagai lahan pertanian tidak sepenuhnya sesuai untuk penanaman padi. Pelatihan yang minim serta kurangnya riset menjadikan hasil padi yang di tanam kebanyakan kosong. Mereka menganggap adanya hama dan kekurangan pupuk. Penggunaan pupuk seharusnya bisa digunakan dan benar yang dimaksud dengan penyuluh lapangan untuk tidak menggunakan pupuk yang mungkin adalah pupuk sintetik. Pemerintah dapat menggalakan penyuluhan mengenai pengolahan pupuk berbahan dasar organik dari bahan baku sekitar mereka.

Ketergantungan terhadap beras sudah tinggi namun belum dapat menstabilkan produksi karena permasalahan di atas. Beras yang didistribusikan oleh Bulog menjadi solusi. Sedangkan terdapat perbedaan harga signifikan antara beras yang didistribusikan oleh Bulog dengan distribusi lokal. Bagaimana jika distribusi tersendat? Jawaban mereka kembali ke pangan lokal yaitu sagu dan keladi.

Minimnya aplikasi teknologi untuk pengolahan sagu dan keladi menjadi permasalahan utama. Teknologi yang digunakan secara luas baru sebatas mesin pemarut sagu dan penepungan masih dengan metode penepungan basah manual. Penggunaan mesin skala industri masih terbatas di sebagian tempat saja. Perbedaan harga tepung sagu dan beras Bulog pun terlampau jauh. Dalam hal ini konsumsi pangan lokal penting karena sumber sudah ada dan banyak tersedia di banyak titik tumbuh di Pulau Siberut.

Mengenai pengolahan umbi keladi tidak di dokumentasikan. Bisa jadi masih belum ada teknologi yang menyentuh untuk pengolahan umbi keladi tersebut.

Menurut saya dibutuhkan riset lebih lanjut mengenai aplikasi teknologi pangan lokal. Dengan pengembangan teknologi pangan lokal maka masyarakat dapat memenuhi kebutuhan dasar karbohidrat mereka tanpa mengubah pola konsumsi lokal, serta tidak perlu menambah usaha dari awal untuk membuka lahan dari beras.

Teknologi pengolahan pertanian sederhana dapat memberikan dampak signifikan bagi masyarakat tidak hanya di daerah Pulau Siberut, namun secara luas sesuai dengan kebutuhan dan produksi lokal.

Wisesa, 2019