Ungkapan itu sudah berkali-kali aku dengar semenjak masih belum bisa lancar dan fasih membaca. Didikan nasionalisme dan marhaenisme sangat kental dalam keluarga. Berlatar belakang dari kakek seorang sekretaris Partai Nasionalis Indonesia di daerah, ayah seorang aktifis banteng semasa kuliah menjadikan pokok pikiran itu mengakar kuat dan menurunkan kepada anaknya yang terlalu muda pada masa itu.
Karena itulah membentuk saya menjadi pribadi yang bersifat keras dan selalu ingin tahu. Memiliki prinsip kuat bahwa kita hidup itu atas dasar kemampuan, kemauan dan usaha. Pemberian itu tidak masuk hitungan, namun bukan berarti menolak pemberian. Segala sesuatu harus dipertanyakan dan memiliki alasan yang kongkret. Segala sesuatu tidaklah kebetulan, dan segala sesuatu punya tujuan.
Mungkin pada artikel sebelumnya saya sudah membicarakan mengenai keputusan saya dalam karir. Ya saya mengambil resiko berat dan sampai saat inipun saya masih merasa ini semua berat. Namun satu hal yang saya pegang teguh. Apa yang saya bangun, itu untuk diri saya sendiri dan saya memiliki hak penuh untuk apa saya bangun dan kepada siapa akan saya alihkan.
Saya sadar bahwa manusia pasti ada akhirnya. Bagaimana cara saya bertanggung jawab dengan hidup itu? Sejauh yang saya tahu adalah meninggalkan jasa dan nama. Semua itu perlu dilakukan untuk berkelanjutan generasi penerus. Transfer visi harus dilakukan seperti yang sudah dilakukan okeh generasi pendahulu saya.
Segala sesuatu tidak pernah boleh dalam keadaan sia-sia. Semua sudah dibayarkan dalam segala bentuk, maka harus dilanjutkan.