Mungkin pada umur2 seperti saya ini adalah waktu dimana manusia sedang gencar2nya cari pasangan. Hal ini ga selalu pacar lho ya? Ada yg bilang pacar, ada yang bilang teman baik, atau apapun itu yang jelas lawan jenis yang “nyaman”. Saat ini pula sebenarnya waktu dimana fase2 berbahaya juga mengintai. Apa itu? Ya apa lagi kalo bukan hubungan yang salah (hal ini mencakup banyak hal ya. Ga hanya seksual, tapi emosional temperamen dan lainnya).

Secara umum namanya manusia pasti ada luputnya. Pasti setiap orang pasti punya kesalahan, akan bersalah, dan sedang bersalah. Banyak hal yg membuat manusia itu bersalah. Secara terfokus dalam hubungan lawan jenis pastipun ada salahnya juga kan? Bahkan mayoritas sosial menganggap kalau banyaknya kesalahan bisa menunjukan tingkat kedewasaan. Bisa juga s, tapi tergantung di lihat dari prespektif apa dulu.

Namun ada 1 kunci utama dimana setiap pribadi manusia bisa bersikap baik. Bersikap mau berubah menjadi lebih baik. Mungkin setelah ini kita ulas per bagian.

1. Mau
Bagian pertama adalah mau. Ini kunci dasar untuk menjadi pribadi yang baik. Mau itu sebenarnya suatu kondisi kerja, dimana keadaan yang baru dimulai. Bisa dibilang titik awal untuk berubah. Yang lebih ke arah dorongan untuk berubah. Jadi bukan berubahnya lho ya. Nah, hal ini tidaklah mudah. Kenapa tidak mudah? Karena manusia itu harus keluar dari kondisi yg saat ini dan berpindah ke kondisi baru. Manusia itu harus sepenuhnya sadar bahwa berpindah kondisi seperti ini bukanlah hal yang mudah karena ia haruslah menyadarkan dirinya untuk tidak di dalam kondisi yang sama seperti sebelumnya. Seorang pribadi yang mau, seharusnya tau kondisi sebelum dan sesudah dan siap akan segala perubahan dan ketidak sesuaian yang akan ada. Siap untuk keluar dari zona nyaman.

2. Berubah
Pada bagian selanjutnya adalah berubah. Dalam kondisi ini adalah satu tingkat di atas mau. Saat manusia sudah dalam fase berubah maka dia sudah semestinya tau pasti kondisi dirinya saat ini. Pada fase ini maka manusia benar2 siap untuk selalu dalam kondisi tidak nyaman. Kenapa seperti itu? Saya punya sedikit ilustrasi favorit. Seonggok tanah itu tidak terlalu berguna bukan? Apa yang perlu dilakukan agar bisa menjadi lebih berguna? Tingkat pertama adalah tanah itu harus dipisahkan dari asalnya (diambil), kemudian dicetak, dan dibakar. Dari tiga fase itu terbentuklah bata yang bisa disusun untuk dijadikan rumah. Itu baru jadi batu bata. Mau lebih baik lagi? Keramik. Tanah dipisahkan, dilunakan dengan air, ditekan untuk membentuk suatu bentuk tertentu dan pada bagian terahir dibakar dengan suhu yang jauh lebih tinggi dibandingkan batu bata. Ada fase yang bertambah dan berbeda diantara batu bata dan keramik. Semakin banyak proses yang bertujuan, maka semakin baik pula hasil akhirnya. Tinggal kita mau pilih mana, tanah (tidak mau), batu bata (berproses setengah jadi), atau keramik (hasil akhir yang indah). Semua itu tergantung pilikan kita bukan?

3. Lebih Baik
Selanjutnya adalah lebih baik. Pada dasarnya manusia itu sudah punya ukuran baik. Yaitu hati nurani. Namun seiring manusia bertumbuh, hati nurani semakin tumpul dan tergantikan oleh logika dunia (tergantung cara bertumbuh tiap pribadi manusia). Maka diperlukan suatu acuan yang bisa digunakan untuk menjadi lebih baik. Maka carilah terlebih dahulu tentan “Baik” itu sendiri. Setelah kita sudah mengetahui standar yang dilakukan, maka bersiaplah bertumbuh menjadi pribadi sang Kebaikan itu sendiri.

Pada dasarnya tidak ada yang instant. Jadi bersiaplah menghadapi hal ini. Saat anda mulai berkomitment mau, siap2 menerima hantaman dari segala arah.

Banyak sih sebenetnya yg mau d share. Tp ngantuk. Hahaha…
Terima kasih.

Leave a comment